Robber Of My Heart (Part 10) – Final


robber-of-my-heart

Title : Robber Of My Heart (Part 10)

Author : Shin a.k.a Berthafitrias

Main Cast : Im Yoona, Oh Sehun

Supporting Cast : Find by yourself

Genre : Romance, friendship, family, AU

Rating : PG-17

Poster :  quenbyxx (Thanks buat cover kerennya 😀 )

Note : Perlu diingat kalau ff ini milik saya sepenuhnya, sedangkan Yoona, dan semua yang saya masukkan dalam ff ini merupakan milik Tuhan, keluarga dan teman mereka. Jadi untuk yang gak suka ama pairingnya, don’t bash ok? terus kalo ada typo nya… hemm sata harap readers bisa maklum dan maafin saya #pake wajah melas 😀

PREVIOUS >> Part 9

DON’T BE PLAGIATOR OK, Hargailah orang lain jika anda ingin dihargai..!

^_^ Happy reading ~ I Hope you like it..^_^

* * *

Menunggu adalah hal yang menyakitkan. Apalagi jika sendirian.

Yoona menghela nafas berat, melirik jam dinding yang sedari tadi memberitahukan waktu saat ini. Sudah malam, dan Sehun masih belum kembali juga.

Yoona rasanya ingin menangis menyadari kebodohannya yang mau-mau saja kembali terjerat rayuan manis Sehun. Entah kenapa sulit baginya untuk menolak pesona namja berkulit pucat itu. Sehun ternyata telah menguasai hatinya sepenuhnya hingga membuatnya pasrah kembali jatuh ke dalam jebakannya.

Sehun lebih memilih mengejar Akemi, dan itulah fakta yang ada.

* * *

“Apa?! Jadi Sehun yang memukulimu? Kenapa?” tanya Seohyun heran.

Jongdae mengeram mengingat saat-saat dimana Yoona direngut paksa oleh Sehun dari sisinya. “Dia tidak ingin Yoona tinggal bersamaku”

Seohyun diam, wajahnya tampak berpikir keras. “Aku heran dengan Sehun, kalau dia mencintai Yoona… kenapa dia membiarkan si jalang itu berada di sisinya?”

“Apa?” kini giliran Jongdae yang keheranan mendengar kalimat Seohyun.

Yeoja itu mengangkat bahu. “Tadi di bandara aku tak sengaja bertemu dengan Akemi. Kau tahu ‘kan? Tunangan Sehun”

“Jadi dia masih belum putus dengan wanita itu?!” Jongdae tiba-tiba marah.

Seohyun menghela nafas mendengarnya. “Entahlah, tapi aku pikir tidak ada urusan lagi selain menemui Sehun bagi wanita itu”

“Sehun keterlaluan!” bentak Jongdae dengan nada tinggi tanpa sadar kalau hal itu membuat Sehun kaget. “Bagaimana bisa dia terus-menerus mempermainkan hati Yoona?!”

Seohyun mengangguk kecil. Dalam hati dia setuju akan pendapat Jongdae. Sehun tampak tidak tegas sama sekali pada wanita itu. Berbeda dengannya dulu. Seohyun jadi penasaran. Sebenarnya apa hubungan Sehun dan Akemi hingga perlakuan yang didapat olehnya dan Akemi dari Sehun dapat berbeda sementara inti dari sikap mereka adalah sama? Sama-sama menginginkan perhatian Sehun. Akemi bahkan tampak lebih jalang daripada dirinya. Cih!

 “Hey, kau mau kemana?!” Seohyun terkesiap manakala melihat Jongdae bangkit dan seolah siap untuk pergi.

“Aku ingin menjemput Yoona” jawabnya enteng.

“Apa? Jangan gila! Sehun bisa membunuhmu!” sanggah Seohyun.

“Aku tidak peduli! Asal Yoona tak menderita lagi disisinya, mati pun aku berani!”

Seohyun menatap Jongdae tak percaya sebelum akhirnya menghela nafas pasrah.

* * *

Sehun menatap datar pada sosok wanita yang berbaring lemah tak berdaya di ruangan tersebut. Tepatnya di ranjang tersebut.

Tadi Akemi pingsan dan membuat Sehun dengan cepat melarikannya ke rumah sakit. Namja itu mengusap wajahnya kasar. Menyesali sikap kekanakan Akemi.

Gerakan Akemi membuat Sehun dengan sigap mengawasinya.

“Akemi? Kau baik-baik saja?” tanyanya penuh antisipasi.

Akemi mengernyit kemudian perlahan membuka matanya. Wajahnya nampak berseri melihat Sehun yang ada disisinya.

“Sehun…” ucapnya lirih. Sehun menatapnya lembut lalu tersenyum.

“Bagaimana keadaanmu? Apakah kepalamu pusing?” tanyanya perhatian.

Akemi tersenyum kemudian menggeleng. “Aku tidak mau disini. Aku mau pulang”

“Kau masih lemah” elak Sehun.

“Kalau begitu aku mau jalan-jalan saja”

Sehun tampak berpikir keras kemudian mengangguk. “Kajja

* * *

“Jongdae? Seohyun? Bagaimana kalian bisa ada disini?” tanya Yoona sembari menatap bingung kedua sahabatnya.

“Itu tak penting! Semua juga tahu alamat CEO Estat!” ujar Seohyun. “Ayo Yoona ikut kami!”

“Apa? Tidak Sehun belum…”

“Yoona apa kau bodoh?! Sehun sudah mengkhianatimu dan meninggalkanmu! Untuk apa kau disini menunggunya?!” Jongdae tiba-tiba menjadi marah. Dia sangat tak menyukai bagaimana Yoona dengan mudah terjatuh dalam pelukan Sehun meski dia tahu dia bukanlah yang utama bagi laki-laki itu.

“Sehun menyuruhku untuk menunggunya…”

“Dan kau percaya? Ck, jangan menaruh harapan terlalu besar. Dia hanya pengecut!”

“Tidak! Sehun bukan pembohong! Meskipun dia pergi dia pasti akan kembali padaku, aku yakin sekali!” Yoona masih berkeras di sisa kesakitannya. Kata-kata Jongdae benar adanya dan begitu menohoknya tapi dengan naifnya dia mencoba untuk menepisnya. Tsk, bodoh!

“Yoona, kau tak mengerti…” Seohyun kini berkata dengan nada lembut dan perhatian. “Akemi dan Sehun pasti memiliki hubungan khusus. Karena itu dia tak bisa memilih antara dirimu dan wanita itu”

“Sehun bilang dia mencintaiku!”

“Ada jaminan dia tak bilang begitu juga pada Akemi?” pertanyaan Seohyun menyudutkan Yoona. Yeoja itu akhirnya beringsut, terjatuh ke lantai dengan airmata berderai.

“Aku memang bodoh…” ucapnya lirih. Jongdae yang mendengarnya memejamkan mata sejenak dan menghela nafas. Tak mau menatap Yoona karena tak tega. Sementara Seohyun menatapnya sendu.

“Sudah jangan menangis, ayo kita pulang. Jangan lagi hiraukan Sehun” bujuk Seohyun. Yoona diam, tapi tangisnya masih kencang. Tubuhnya bahkan tampak lemas. Jongdae yang melihatnya segera menghampirinya dan berniat memapah Yoona sampai akhirnya yeoja itu hampir saja terjatuh.

“Yoona, kau baik-baik saja?” tanyanya cemas. Jongdae memperhatikan Yoona dengan seksama. Wajahnya tampak pucat. Sementara tubuhnya lemas. Jongdae khawatir Yoona jatuh sakit.

“Sebaiknya kita ke rumah sakit saja” ucapnya pada Seohyun yang mengangguk paham.

* * *

Seoul, Korea Selatan

Soojung merengut. Wajahnya terlihat menunjukkan kemuraman.

“Aissh… eonni kemana? Kenapa ponselnya tak aktif eoh? Padahal aku benar-benar merindukannya”

Kai yang ada di sisinya mengelus rambut Sooyoung dengan penuh kasih sayang, membuat Soojung menoleh padanya.

“Mungkin sedang sibuk, sayang. Jangan khawatir”

Soojung mendengus sebelum akhirnya memilih mengangguk.

* * *

Canada

“Kau terlihat tak bersemangat”

“Benarkah?” tanya Sehun sembari menatap Akemi datar. Sementara tangannya dengan sigap mendorong kursi roda yeoja cantik itu.

“Ya”

Sehun menghela nafas. Sebenarnya sejak tadi ada yang terus mengganjal di pikirannya.

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu”

Akemi diam. Wajahnya menunjukkan aura tak suka. Tapi akhirnya dia memaksakan sebuah senyum dan menatap Sehun hangat.

“Benarkah?”

* * *

“Tunggu disini sebentar ya” pesan Jongdae. Yoona hanya menatapnya datar. Kini tatapan Jongdae beralih pada Seohyun. “Jaga dia. Aku hanya tinggal mengurus administrasinya saja”

Arraseo” jawab Seohyun singkat.

Sepeninggal Jongdae, Seohyun menatap Yoona. Segera dia menghela nafas melihat sahabatnya itu masih tampak bersedih.

“Yoona-yah… mau jalan-jalan sebentar?”

* * *

“Jadi begitu…”

Akemi memaksakan senyum setelah memberanikan diri menatap Sehun yang tampak merasa bersalah padanya.

“Maaf…” jawab Sehun lirih.

“Kenapa minta maaf? Aku senang kau mau jujur. Itu lebih baik daripada aku harus bahagia tapi diatas kebohongan”

Seohyun menatapnya lekat, wajahnya terlihat ragu. “Kau yakin baik-baik saja?”

“Ya” jawab Akemi tenang.

“Aku serius Akemi. Jika kukatakan aku mencintainya, bukan berarti aku bisa memutuskan hubungan dengan mudah bersamanya”

“Ya, aku tahu”

“Jadi, kau benar-benar sudah mengerti?”

Akemi mendecih, kemudian menatap Sehun dengan tatapan merajuk. “Apa kau pikir aku ini bodoh? Ya, aku tahu! Dia gadis yang kau sukai! Aku paham, sangat! Jadi berhentilah menanyaiku seperti aku anak SD!”

Sehun tersenyum tipis mendengarnya. Sedikit geli. “Lalu apa rencanamu?”

Akemi tersenyum miris mendengarnya. “Apalagi? Paling menerima perjodohan dengan Shinici”

“Kau tidak mencintainya, bukan?”

“Tapi dia mencintaiku. Itu lebih baik daripada mengharap cinta yang tak pasti” jawab Akemi tegas.

Sehun terlihat diam sejenak. Wajahnya nampak menimbang. “Aku harap kau bahagia”

Akemi tersenyum, matanya tampak berkaca-kaca. “Bolehkah aku memelukmu?”

“Apa?”

“Satu kali saja. Dulu kau begitu hangat dan aku sangat nyaman bersandar di punggungmu. Tapi sekarang kau begitu dingin dan tak tersentuh olehku. Aku merindukanmu, tahu?”

Sehun tersenyum tipis mendengarnya kemudian mengangguk. “Kemarilah…”

* * *

Mata gadis itu memanas. Berubah menjadi genangan anak sungai beberapa saat kemudian. Sementara wajah lain di sisinya tak kalah heboh. Mulutnya ternganga dengan sempurna.

“Dasar brengsek!” umpat Seohyun tanpa sadar. Dia baru saja akan melabrak ketika Jongdae tiba-tiba – yang entah darimana – lebih dulu mendatangi Sehun dan…

BUK!

Yoona membulatkan matanya, begitu juga Seohyun da Akemi.

Sehun terduduk, sudut bibirnya berdarah. Wajahnya mengeram marah melihat siapa yang berani menantangnya.

“Apa yang kau lakukan?!” bentaknya penuh emosi.

“Itu balasan setimpal untukmu karena telah mengkhianati Yoona!” balas Jongdae tak kalah keras.

“Apa?”

“Ck, pura-pura tidak tahu! Kau memilih bersama yeoja ini dan memeluknya! Kau pikir kau siapa berani mempermainkan hati Yoona hah?!”

Sehun terkesiap, pandangannya teralihkan pada Yoona yang menatapnya sendu dengan mata berkaca. Segera laki-laki itu bangkit dan bersiap menghampiri Yoona kalau saja tidak ditahan oleh Jongdae.

BUK!

Sekali lagi, Jongdae menghadiahi pukulan di perut Sehun dan sukses memukulnya mundur.

“Jangan dekati dia brengsek!” bentak Jongdae. “Mulai sekarang, aku takkan segan untuk membunuhmu jika kau berani menampakkan dirimu di hadapan Yoona!”

“Kau pikir kau siapa hah?!” balas Sehun.

“Aku sahabatnya!”

“Cih, hanya sahabat sementara aku…”

“KAU BUKAN SIAPA-SIAPAKU!” teriakan menggelegar Yoona membuat dirinya jadi pusat perhatian orang-orang. Sementara fokus Sehun sepenuhnya tertuju padanya.

“Yoona…” ucapnya lirih penuh kekecewaan.

Yoona melangkah. Tangannya mengusap kasar sisa airmatanya sementara wajahnya terangkat dengan sorot penolakan mendalam.

“Kita putus” jawabnya singkat.

“Apa? Tidak Yoona aku mencin…”

“Jangan katakan kau mencintaiku sementara kau memeluk wanita lain di belakangku bajingan!” ucapan Yoona membuat Sehun terperangah. Namja itu menatap Yoona lekat dengan wajah  tak percaya.

Yoona kembali terisak. Dadanya terasa sesak dan dia tak bisa menahannya lebih lama lagi. “Aku lelah! Aku benar-benar lelah! Berhenti mempermainkanku!”

“Aku tak pernah mempermainkanmu…” bantah Sehun tak menyerah.

“Lalu kenapa kau selalu meninggalkanku?! Kenapa selalu tak ada disisiku? Saat aku membutuhkanmu… kau tak ada untuk menyemangati dan menguatkanku. Saat aku merindukanku, kau bahkan sangat sulit untuk di hubungi. Itu yang kau bilang kau menginginkan aku?! Jangan egois, kau ingin aku selalu ada untukmu tapi kau seenaknya meninggalkanku. Apa kau pikir aku ini barang yang bisa kau pungut dan campakkan sesuka hatimu hah?!”

Sehun menghela nafas berat, mulai merasakan airmata berkumpul di pelupuk matanya mendengar kalimat Yoona yang terdengar begitu menghakiminya.

“Yoona kau tak mengerti… aku mencintaimu, tapi keadaan begitu sulit bagiku”

“Kalau begitu buat aku mengerti! Buat aku tahu betapa kau mencintaiku! Aku ini manusia biasa, aku bukan dewa atau Tuhan yang bisa tahu tanpa kau beritahu! Tidakkah kau mengerti itu? Sekarang katakan, seberapa sulit keadaanmu hingga membuatku sulit memahamimu? Apa kali ini aku yang harus menjauh darimu?”

Ucapan Yoona membuat Sehun tersentak. “Tidak, jangan lakukan itu. Jangan begini Yoona, kumohon. Kau salah paham, aku tidak…”

“Aku tak bisa lagi bersamamu”

DEG!

“A… apa?” lidah Sehun kelu untuk sekedar bicara. Kalimat Yoona telah melumpuhkan kemampuan intelegensinya dalam menerima asupan informasi.

“Kita tak ada hubungan apa-apa lagi. Sekarang kau bebas menjalani kehidupan yang kau mau. Aku takkan mengganggumu lagi”

“Tapi Yoona…”

“Selamat tinggal” Yoona segera berbalik dan berjalan pergi. Sehun yang tak rela segera menyusulnya namun terhalang oleh Jongdae yang menahanya dan segera menyarangkan berbagai tinjuan padanya.

BUK!

BUK!

BUK!

BUK!

Sehun yang sedang dilanda kepanikan dan kegalauan sekaligus hanya bisa pasrah menerima setiap pukulan Jongdae tanpa berniat membalasnya. Pandangannya hanya tertuju pada Yoona yang semakin berjalan menjauh darinya.

Jangan pergi, batinnya disela kesakitannya.

“Hentikan!” samar-samar dia mendengar teriakan Akemi yang sejak tadi bersikeras menyelamatkannya dari Jongdae. Tapi Sehun yang telah memilih pasrah hanya bisa diam dan membiarkannya saja.

Mungkin ini balasan yang pantas baginya karena telah membuat Yoona merasa kecewa…

* * *

 Yeoja itu terus menangis di sepanjang perjalanan. Jongdae dan Seohyun yang melihatnya jadi tak tega.

“Maaf Yoong, aku memukulnya…” ucap Jongdae lirih. “Seharusnya aku tak memperlakukan lelaki yang kau cintai sekasar itu” lanjutnya dengan wajah menyesal.

Yoona masih terisak. Wajahnya menunjukkan kesedihan mendalam. Kedua tangannya menutup wajahnya. Tak mengizinkan Jongdae dan Seohyun untuk melihat betapa sembabnya matanya dan betapa menyedihkannya keadaannya saat ini.

“Sudah berakhir, ini sudah berakhir” gumamnya dengan sesenggukan. “Aku takkan bertemu lagi dengannya”

“Masih belum terlambat…”

“Tidak!” potong Yoona cepat, membuat Jongdae yang tadinya diliputi rasa bersalah menatapnya heran. “Aku tidak mau bersama dengannya lagi. Mencintainya terlalu menyakitkan. Aku lelah harus mengerti dirinya”

Jongdae menghela nafas. Matanya menatap sendu gadis itu. Perlahan dia memeluk Yoona erat, membawa gadis itu masuk ke dalam dekapan hangatnya.

“Jangan lakukan apapun yang bisa menyakitimu” bisik Jongdae sembari mengusap rambut Yoona dengan sayang. Berusaha menenangkan gadis itu.

* * *

 Sehun terbangun saat matahari sudah tenggelam. Matanya segera beredar menyesuaikan dengan keadaan sekitar.

“Sehun, kau baik-baik saja?” tanya Akemi dengan raut cemas.

Sehun mengernyit, kemudian segera beranjak tanpa kata.

“Sehun, kau mau kemana?” tanya Akemi sembari menyusulnya.

“Aku mau menemui Yoona. Dia salah paham!”

“Tapi ini sudah malam, dan mungkin dia masih marah padamu. Tunggulah beberapa saat disini, temani aku…”

“Berapa lama lagi aku harus menunggu?!” pertanyaan bernada bentakan dari Sehun membuat Akemi terdiam sejenak sebelum dia menunduk.

“Aku akan sendirian saat kau pergi” ujarnya lirih.

Sehun diam, wajahnya menunjukkan rasa bersalah karena telah membentak Akemi. Namja itu menghela nafas.

“Kau sudah dewasa, tak butuh aku lagi” ujarnya dingin.

“Tapi kau sudah berjanji untuk menjadi sandaranku!” Akemi sedikit berkeras.

“Itu dulu, saat kau masih belum bisa berdiri sendiri. Tapi sekarang, aku punya orang lain untuk ku jaga dan ku sayangi. Kau, mulai saat ini harus menentukan langkahmu sendiri. Maafkan aku…” jawab Sehun lembut.

Akemi diam, matanya segera berair. “Aku mencintaimu…”

“Kau tak mencintaiku” Sehun menggeleng sembari berkata. “Kau hanya membutuhkanku sebagai tempatmu mengadu dan itu bukan hal yang benar, Akemi. Aku punya kehidupan sendiri begitu juga kau. Sudah waktunya kita mengakhiri semuanya. Maaf, seharusnya aku lebih cepat mengatakannya sebelum kau benar-benar menggantungkan harapan padaku”

“Kau benar-benar berubah” Akemi tersenyum miris dalam tangisannya. “Dulu siapapun kekasihmu takkan pernah bisa menandingiku. Kau akan selalu ada untukku. Kau takkan tega meninggalkanku. Semua berubah sejak kau bertemu dengan gadis itu. Kau tak jadi menyusulku ke London, kau malah pergi ke Korea dan mengejarnya. Kau tak pernah seperti ini sebelumnya”

“Ya, aku berubah” ucapan tegas Sehun membuat Akemi terisak. Perlahan dirasakannya sebuah pelukan yang begitu hangat namun terasa dingin baginya. Mungkin pelukan yang terakhir sebelum Sehun benar-benar menjadi milik gadis yang dia cintai. “Bukan cuma aku, semua bisa berubah. Kau pun juga. Tak ada hal yang benar-benar kekal, Akemi. Kau tahu dengan jelas bagaimana perasaanku padamu. Aku ingin melindungimu, tapi itu dulu sebelum aku bertemu dengannya. Kau harusnya menyadari itu dan tak menyakiti dirimu sendiri. Kau cantik dan memiliki segalanya. Jangan sia-siakan hidupmu untukku”

Akemi membalas pelukan Sehun dengan erat. “Kau yang paling mengerti aku. Di saat aku terjatuh, hanya kau yang mau mengulurkan tangan untukku. Kau juga yang mengajariku untuk benar-benar menjadi manusia. Kau segalanya untukku”

“Dunia takkan berhenti hanya karena tak ada aku di sisimu. Kau hanya butuh percaya, tak semua orang akan bersikap buruk padamu. Orangtuamu begitu menyayangimu begitu juga sahabat-sahabatmu yang lain. Kau yang hanya mencoba menghindari kenyataan yang ada. Aku bukan satu-satunya yang mengerti dirimu”

Dengan berakhirnya kalimat Sehun, maka Akemi dengan berat hati melepaskan pelukan namja itu dan terisak di lantai. Menatap sendu punggung Sehun yang menjauh darinya.

Aku benar-benar kehilanganmu, bukan?

* * *

“Kau yakin?”

Yoona menoleh, kemudian tersenyum dan mengangguk. “Aku sudah memberi kabar pada pihak kampus”

Jongdae menghela nafas kemudian mengelus rambut Yoona sayang. “Baiklah”. Dalam hati dia merutuki betapa padatnya jadwal kuliahnya hingga membuatnya tak bisa menemani Yoona. Matanya terarah pada Seohyun yang baru saja tiba sembari memberi Yoona secangkir teh hangat.

“Jaga dia ya, Seo? Aku percaya padamu. Kumohon…”

Seohyun tersenyum geli kemudian mengangguk paham. “Arraseo!”

* * *

Wajahnya nampak tak tenang. Pandangannya terarah pada jalanan di depan. Bulir-bulir keringat masih menghiasi wajah pucatnya disaat air conditioner telah menguasai ruang mobilnya.

Sehun segera turun dari mobilnya begitu sampai didepan apartemennya. Dengan langkah tergesa, namja itu memencet tombol lift apartemen Jongdae dan ketika benda itu membuka Sehun hampir saja melompat karenanya.

Dia baru saja menghembuskan nafas gugup manakala matanya menatap sosok yang begitu dia inginkan saat ini. Yoona terlihat membuang sampah. Sehun tersenyum dalam hati. Mungkin ini kesempatannya.

Dengan segera dia berlari dan menarik tangan Yoona tanpa basa-basi. Menghiraukan teriakan panik wanita itu.

“Lepaskan! Kau ini siapa seenaknya mena…” ucapan Yoona  terhenti begitu menyadari kalau Sehunlah yang telah menarik paksa dirinya. Sehun menghentikan langkahnya, kemudian berbalik dan menatap Yoona sendu.

“Aku perlu bicara denganmu” ujarnya lembut dibarengi ekspresi memelas.

Yoona menggigit bibir bawahnya dengan geram. Ingin rasanya dia menyumpah serapah pada laki-laki bermarga Oh itu tapi anehnya lidahnya terasa kelu tanpa daya. Yoona merutuk. Kenapa dia selemah ini?!

“Lepaskan tanganmu darinya brengsek!” bentakan dari Jongdae tiba-tiba menggema mewarnai kebimbangan Yoona dan penantian Sehun akan respon dari wanita tersebut.

Sehun mendengus. Dengan sigap dia menarik Yoona agar berada di belakang tubuhnya. Bermaksud menghindarkan Jongdae dari gadis itu.

“Kau tak berhak memerintahku, Kim Jongdae!” sanggahnya tak kalah keras.

“Kau sudah tak punya hubungan apapun dengannya! Kau hanyalah mantannya, tak lebih”

Yoona dapat merasakan kalau tubuh Sehun menegang mendengar ucapan Jongdae. Tangan namja itu terkepal dengan urat yang tampak menonjol setelahnya. Sehun benar-benar marah!

BUK!

Dan benar saja, tanpa basa-basi lagi Sehun segera melayangkan tinjuannya pada wajah Jongdae dan membuat namja itu tersungkur. Yoona menjerit, begitu juga Seohyun.

Sehun yang masih emosi segera memegang kerah baju Jongdae dan memaksanya untuk bangkit. Matanya menyorot tajam lawannya.

“Apa kau pikir karena kemarin aku tak melawanmu, kau telah menang dariku?” desisnya. Selang beberapa detik kemudian Sehun tersenyum miring dengan wajah meremehkan. “Jangan besar kepala! Aku hanya sedang tak berkonsentrasi. Jika aku mau, kau bisa saja terbunuh saat ini juga…”

Yoona membulatkan matanya tak percaya. Mendadak ada rasa tak suka atas kalimat Sehun pada Jongdae. Namja itu bersikap seolah Yoona adalah benda berharga untuknya tapi kenyataannya malah sebaliknya dan jujur itu membuat Yoona mulai muak!

Sehun telah bersiap memukul tangan Jongdae lagi ketika teriakan Yoona menginterupsi kegiatannya.

“Hentikan! Jangan pernah kau menyentuh Jongdae!”

Sehun segera menoleh padanya dan menatap Yoona tak percaya. Yeoja itu tampak sangat marah dan itu jelas bukan hal yang baik untuknya.

“Sayang, aku…”

“Apa kau sadar betapa menjijikkannya dirimu?”

DEG!

Sehun mematung. Ucapan Yoona ibarat belati beracun yang mengoyak habis hatinya tanpa sisa. Meninggalkan keperihan mendalam yang sakitnya tiada berujung.

Yoona mendengus, gadis itu bahkan menolak untuk menatap Sehun yang kini fokus sepenuhnya pada dirinya.

“Kau bersikap seolah mencintaiku, tapi nyatanya aku bukan yang utama di hidupmu. Dan yang paling menyebalkan dari dirimu adalah… kau seorang gangster dan aku benci akan kenyataan itu. Membuatku tak bisa bernafas dengan benar. Katakan, sudah berapa banyak kau menghabisi orang dengan tanganmu itu?”

DEG!

Sehun menahan sesak di dadanya. Nafasnya naik turun tak beraturan. Matanya berkaca-kaca menandakan kesedihan yang timbul akibat ucapan kasar Yoona padanya.

“Aku bukan gangster…” elaknya mencoba menghalau tuduhan Yoona. Sehun sadar, sedikit lagi Yoona menyentuh titik sensitifnya akibat perkataannya airmatanya akan segera meluncur dengan bebas tanpa malu!

“Kau Yakuza, apa bedanya dengan gangster? Tak usah menyangkal, kau malah tampak menyedihkan”

TES!

Setetes airmata telah jatuh di pipi Sehun dengan lambat. Mengundang keterpanaan pada diri Seohyun, Jongdae bahkan Yoona yang melihatnya. Ini benar Oh Sehun?

“Lalu kenapa kalau aku gangster? Apa aku tak boleh mencintaimu? Apa dosa besar bagiku jika aku menginginkanmu? Apa aku bukan manusia hingga aku tak bisa menyentuhmu?” kini giliran ucapan Sehun yang menohok hati Yoona. Yeoja  itu terpaku, menatap sendu Sehun yang menatapnya dengan wajah paling menyedihkan yang pernah ada.

“Kau menyakitiku lebih dari yang kau tahu, Yoona…” Sehun tertunduk, mencoba menghalau isakan yang bisa keluar kapan saja dari mulutnya.

Yoona kembali emosi mendengarnya. Kenapa sekarang malah dia yang tersudutkan?!

“Lalu kau pikir kau tidak?!” bentaknya dengan airmata berlinang. “Apa kau pikir menyenangkan saat kau tinggalkan? Apa kau tahu bagaimana bencinya aku menunggu? Setiap hari aku selalu meyakinkan diriku kalau kau pasti kembali padaku! Aku mencoba kuat disaat aku semestinya siap tumbang! Aku menjaga hatiku semampu aku mempercayaimu! Tapi kenapa kau mengecewakanku dengan memberikan ruang bagi wanita lain di sisimu?! Sebenarnya apa artinya diriku untukmu? Jika memang kau mencintaiku, seharusnya kau bisa menjaga perasaanku sebaik aku menjaga cintaku padamu!”

Sehun menatapnya sendu. Lalu menggeleng. “Karena itu biarkan aku menjelaskan semuanya padamu. Kau salah paham…”

“Tidak, inilah yang terbaik” Yoona menggeleng, menunjukkan penolakan atas permintaan Sehun. “Kau memiliki banyak waktu untuk menjelaskan semuanya tapi kau tak pernah melakukannya! Aku… tak bisa lagi bersamamu”

“Tapi Yoona, ini sungguh tak adil! Kau bilang kau mempercayaiku, lalu kenapa tak mau memberiku kesempatan?!” Sehun langsung protes.

“Kepercayaanku hilang saat kau lebih memilih mengejar wanita itu dibandingkan tinggal bersamaku. Maaf, aku hanya manusia biasa dan aku tak bisa menerima rasa sakit lebih dari ini”

“Yoona…” Ucapan Sehun terputus ketika Yoona segera berbalik dan masuk ke apartemen tanpa menoleh lagi padanya. Sehun akan menyusulnya, tapi segera ditahan oleh Jongdae.

“Jangan egois, biarkan dia menenangkan dirinya” ujar Jongdae dengan wajah sinis. Sehun mendengus, kemudian menunduk dengan wajah putus asa.

* * *

“Hiks… aku sakit Seo, aku tak bisa melepaskannya dengan mudah”

Seohyun menatap Yoona dengan wajah iba, lalu mengelus rambut yeoja itu sayang.

“Kau akan baik-baik saja. Waktu akan menyembuhkan luka yang ada” ucapnya mencoba menghibur tapi tetap saja isak tangis Yoona tak berhenti. Yeoja itu malah memilih meringkuk di pelukannya dengan wajah pucat dan mata sembab.

Sementara diluar ruangan tersebut, Jongdae menatap Yoona sembari menghela nafas.

“Apa hanya dia yang bisa memberimu kebahagiaan?” gumamnya sedih.

* * *

BRAK!

Akemi segera terbangun dari tidur-tidur ayamnya dan menatap kaget Sehun yang nampak limbung hingga terjungkal di lantai. Dengan segera gadis itu menghampiri Sehun dan memapahnya.

“Kau kenapa Sehun?” tanyanya heran. Beberapa saat kemudian Akemi mengernyit. Sehun bau alkohol!

“Halo Akemi…” sapa Sehun sembari tergelak. Tubuhnya beberapa kali limbung dan membuat Akemi kesulitan untuk memapahnya.

“Kau mabuk?” Akemi terkejut atas pertanyaannya sendiri. Pasalnya Sehun yang dia ketahui bersih dari segala jenis minuman keras atau barang-barang terlarang semacam narkoba. Meski jika menyangkut perkelahian Sehunlah biangnya.

“Ya! Aku mabuk hahaha…” Sehun lagi-lagi tertawa.

Akemi menghela nafas. Dengan sigap dia mendudukkan Sehun di sofa dan menatap namja itu sendu.

“Kau tidak pernah sekacau ini” ujarnya lirih.

Sehun mengangkat wajahnya yang tampak memerah karena pengaruh alkohol. Matanya sayu sedikit menerawang.

“Dia menghancurkanku menjadi debu!” Sehun tiba-tiba berteriak dan membuat Akemi terlonjak meski akhirnya memilih mendengarkan.

Sehun tertunduk kembali. Beberapa saat ruangan tersebut menjadi hening. Baik Akemi maupun Sehun tak ada yang berani membuka suaranya.

Akemi kembali tersentak begitu dilihatnya bahu Sehun nampak naik turun. Dan tidak hanya terjadi satu kali, tapi berkali-kali. Sehun menangis?

“Sehun…” panggilnya sembari memegang bahu Sehun yang sigap mengangkat wajahnya dan memperlihatkan betapa menyedihkannya namja itu dengan mata sembab dan wajah berantakan.

“Dia bilang aku menjijikkan…”

“Apa?”

“Aku gangster dan dia…” Sehun mengangkat tangannya dan melihatnya dengan tatapan aneh. “Bilang dengan tangan ini sudah banyak kehidupan yang ku rampas. Dia benci dan marah padaku. Dia bahkan tak mau melihat wajahku. Kemudian… dia pergi dan menjauh dariku…”

Akemi meneteskan airmatanya, mulai menyadari kesakitan yang Sehun simpan dan rasakan saat ini.

“Aku mencintainya lebih dari hidupku…” Sehun kembali terisak. “Tapi dia menolaknya, mengatakan aku tidak mengutamakannya. Memandangku seolah aku pendosa paling tak beradab di dunia. Apakah salah jika aku memang seorang yakuza? Apakah seorang yakuza tak boleh mencintai dan dicintai? Kenapa dia memperlakukanku seolah aku bukan manusia?!”

Sehun menarik kakinya naik ke atas sofa. Kemudian wajahnya ditenggelamkan di celah kakinya yang terlipat. Tangisan namja itu mulai membahana mengisi kesunyian yang ada. Sementara Akemi diam, menyaksikan kehancuran Sehun akibat dirinya.

“Maafkan aku Sehun…” ucapnya lirih. “Aku tak tahu kalau akan jadi sekacau ini. Maaf aku egois dan memaksamu untuk tetap di sisiku. Aku bersalah” lanjutnya penuh penyesalan. Tangannya terulur meraih Sehun dan memeluknya erat. Mencoba memberi kehangatan pada namja tersebut.

* * *

Pagi ini suasananya terasa berbeda. Yoona menghirup dalam aroma pinus yang mungkin beberapa meter jaraknya dari tempatnya berdiri kini. Seulas senyum gembira mulai menghiasi wajah tirus gadis itu.

Semalam Seohyun membawanya berkendara ke rumah musim panas yang jaraknya cukup jauh dari apartemen Jongdae. Terkesan mendadak memang tapi Seohyun juga tak bisa memikirkan hal lain selain ini. Beberapa temannya memberi refrensi tentang hal ini untuk menenangkan hati dan Seohyun pikir ini cukup baik untuk Yoona.

Yeoja itu butuh ketenangan. Dan Seohyun akan memberikannya. Seperti Yoona yang selalu memberikan ketulusan dalam pertemanan mereka meski Seohyun selalu menindasnya.

“Kau harus istirahat Yoon!” teriakan Seohyun membuat Yoona segera berbalik dan tersenyum sembari melangkah ke arah yeoja jangkung itu.

“Kau senang disini?”

“Ya” jawab Yoona masih dengan senyum manisnya. “Kuharap Jongdae bisa segera menyusul”

* * *

Berbanding terbalik dengan keadaan sebelumnya, Sehun terbangun dalam keadaan mengenaskan.

Ruang tamunya begitu berantakan, begitu juga dirinya. Rambutnya terlihat awut-awutan dan dirinya berbau menyengat. Sehun mengeluh, menyadari kalau dia tampak seperti gembel saat ini.

Suasana yang sepi membuat batinnya bertanya. Kemana Akemi?

Sehun sejujurnya merasa bersalah dengan wanita itu. Akemi telah banyak berjuang untuknya dan dia malah membuangnya. Hal itu membuat Sehun selalu tak tega pada Akemi. Bukan karena dia mencintai Akemi atau perasaan lain selain balas budi. Jahat memang, tapi dia juga tak mau munafik.

Kini namja itu beranjak dan mengusap wajahnya kasar. Ponselnya berdering dan Sehun segera mengangkatnya tanpa basa-basi.

“Ada apa?”

“………………..”

“Apa? Rumah musim panas?”

“………………..”

“Aku mengerti. Kerja bagus”

KLIK!

Sehun mengakhiri sambungannya dengan wajah datar dengan hati sedikit berbunga. Anak buahnya telah melaporkan dimana posisi Yoona saat ini. Sehun telah menugaskan seseorang untuk memata-matai Yoona karena takut gadis itu melarikan diri darinya. Dan sekarang dia telah bertekad akan menjelaskan duduk permasalahannya agar Yoona mengerti dan setidaknya mau memberi maaf kepadanya.

Merasa haus, Sehun memutuskan meminum segelas susu dingin dari dalam lemari es. Minuman kesukaannya. Sampai matanya dengan jeli menemukan sesuatu yang tertempel di muka lemari es. Sebuah memo.

Aku pergi. Maafkan aku sudah mengacaukan hidupmu. Aku sadar, aku tak bisa selamanya bergantung padamu. Jalani hidupmu dengan baik, sampai jumpa lagi (jika bertemu)

Akemi

Sehun menghela nafasnya. Betapa jahatnya dia! Kini dia hanya bisa menatap nanar memo tersebut dengan wajah bersalah.

* * *

Jongdae menatap sinis Sehun yang berdiri dengan wajah datar di hadapannya. Laki-laki itu terlihat mempesona seperti biasa meski beberapa lebam menghiasi wajah tampannya.

“Bisakah aku bertemu dengan Yoona?” tanyanya dengan suara dingin yang sungguh mengintimidasi.

“Dia tak mau bertemu denganmu lagi! Tidakkah kau mengerti bahasa manusia?” cibiran Jongdae biasanya selalu sukses mengundang amarahnya. Tapi untung kali ini, Sehun hanya diam. Entahlah. Tidak tahu kenapa dia bisa mengerti atas sikap sinis dan dingin Jongdae padanya. Sehun mencoba berpikir terbuka. Jongdae mencintai Yoona, jadi sewajarnya dia memperhatikan Yoona. Seperti dirinya. Meski mungkin yang terlihat malah sebaliknya untuk Yoona.

“Aku mohon…”

Ucapan dengan wajah memelas milik Sehun membuat Jongdae tertegun. Namja itu menatap lekat Sehun, seolah tak percaya kalau laki-laki seperti Sehun bisa memohon padanya! Seolah dia sangat putus asa sekali.

“Kau telah menyakitinya” elak Jongdae masih belum rela.

“Aku tahu, dan untuk itu aku ingin menjelaskan semuanya. Aku butuh ruang untuk meyakinkan Yoona kalau aku tidak seburuk yang dia pikirkan!”

“Sudahlah, dia sudah memutuskanmu. Kau sudah bebas. Kini kau bisa menikah dengan tunanganmu itu atau…”

“Dia bukan tunanganku! Dia hanya temanku!” elak Sehun cepat.

“Teman yang membuatmu mampu meninggalkan kekasihmu?” sindir Jongdae. Sehun menghela nafas, matanya menatap lekat Jongdae dengan tatapan menyiratkan lelah. Sebenarnya dia tahu dimana Yoona saat ini. Hanya saja dia ingin mendapatkan maaf dan kepercayaan dari Jongdae. Dia juga sudah memikirkan dengan matang. Memaksa bukanlah jalan yang baik. Dia perlu berkepala dingin kali ini.

“Akemi, dia…”

* * *

Akemi menatap awan yang berarak membentuk gumpalan putih dengan tatapan kosong. Gadis itu tersenyum pahit menyadari kalau kisah cinta impiannya telah usai dengan dirinya yang pulang tertunduk kalah.

Tapi dia tak menyesal. Inilah konsekuensi paling wajar yang mesti dia terima. Akemi telah mengetahui kalau Sehun tak mencintainya, maka itu berarti dia harus siap mendapati hatinya yang terluka.

Terimakasih atas semua kasih sayang dan perhatian yang kau beri Sehun. Kau benar, tak selamanya aku bisa bergantung padamu. Aku harus melangkah sendiri dan kupikir, sekaranglah saatnya…

* * *

Yoona terperangah. Menatap tak percaya Jongdae yang berada dihadapannya. Di belakangnya, Sehun menatapnya dengan wajah serius tapi sendu.

“Kenapa kau bawa dia kemari?!” Yoona segera mengamuk dan Jongdae meringis karenanya.

“Dia ingin menjelaskan semuanya Yoona, kau benar-benar salah paham…” jawab Jongdae memelas.

“Aku tak butuh penjelasannya. Bagiku semua sudah jelas. Aku dan dia sudah berakhir!” ucap Yoona dengan nada final yang seketika membuat Sehun nyaris putus asa.

“Yoona, jangan begitu. Kau harus tahu Sehun tak pernah berniat menyakitimu. Semua sikapnya hanya untuk melindungimu…” Jongdae berkeras. Penjelasan Sehun telah membuka mata hatinya.

“Tidak, aku benci! Sangat benci dengannya!!!” tanpa basa-basi Yoona segera masuk ke dalam rumah tersebut, meninggalkan Sehun yang terpaku dengan wajah yang terlihat lesu.

Sementara Seohyun yang melihatnya menatapnya geram. “Memang apa alasan kau membawanya kemari?! Hell, kau benar-benar Kim Jongdae! Yoona sudah tenang tadi, tapi kau…”

“Sebaiknya kau ikut aku!” Jongdae segera menarik Seohyun namun langkahnya terhenti menatap Sehun yang menatap lurus ke arah rumah.

“Kau bisa masuk ke dalam. Udaranya cukup dingin, aku perlu bicara dengan Seohyun”

Sehun diam, kemudian menggeleng. “Yoona akan marah, aku tak mau dia tertekan. Aku tunggu diluar saja”

Jongdae mengernyit, meski akhirnya mengangguk. Berpikir Sehun akan menunggu di mobil atau mungkin mencari rumah musim panas lain.

* * *

Yoona memeluk gulingnya dengan wajah cemberut. Dia masih belum bisa memaafkan Sehun. Dia masih sangat sakit hati!

Enak saja, setelah mempermainkannya dengan mudahnya memintanya tetap di sisinya?! Issh… egois sekali!

Ngomong-ngomong suasananya sepi sekali. Tak ada obrolan Jongdae atau Seohyun yang biasanya terdengar. Yoona sedikit merasa aneh. Pemanas ruangannya tak berfungsi dengan baik. Yoona masih agak kedinginan. Dia putuskan untuk membuat hot chocolatte.

Kakinya melangkah turun menuju ke dapur. Bersiap untuk menghibur dirinya dengan minuman hangat yang menyegarkan. Hingga tanpa sadar matanya melirik ke luar. Ke tempat yang menjadi saksi penolakannya atas kehadiran Sehun.

Mata rusanya melebar. Mulutnya membuka tak percaya.

Sehun kini, dengan segala sikap angkuhnya – menurut Yoona – berdiri tegak menghiraukan udara dingin yang menggigit kulitnya. Wajahnya yang pucat tampak semakin mengerikan karena terlalu lama terpapar udara dengan suhu rendah.

Yoona berdecak sebal. Mulai menyalahkan sifat kekanakan Sehun. Untuk apa dia menunggu diluar? Biasanya juga memaksa masuk!

Beberapa saat Yoona dilanda kebimbangan. Apa dia hanya perlu mengabaikannya atau mengajaknya masuk disaat amarahnya masih membludak? Yoona pusing memikirkan malaikat dan iblisnya berperang hebat dalam membatin.

Yoona akhirnya meneguhkan hatinya. Dia akan menunggu dan melihat. Seberapa kuat Sehun menahan dirinya untuk mendapatkan maafnya.

* * *

“Jadi Sehun…”

Jongdae mengangguk, sementara Seohyun menghela nafas.

“Kau percaya padanya?” Seohyun masih meragu.

“Ya, aku percaya dimana seharusnya tidak. Dia sainganku dan aku benci dia yang telah membuat Yoona menangis” Jongdae tampak geram. “Tapi aku ini manusia. Bukan Tuhan. Aku tak berhak menghakiminya dan aku tahu dengan jelas setiap kata dari bibirnya adalah kebenaran”

“Darimana kau tahu?”

“Matanya menyiratkan ketulusan. Kau tahu instingku selalu baik”

Seohyun diam sejenak, tampak menimbang sebelum akhirnya mengangguk paham.

“Dia bodoh atau apa? Kenapa tak segera menjelaskannya pada Yoona?!”

“Dia idiot, menurutku. Lamban!”

“Seperti kau tidak” cibiran Seohyun membuat Jongdae mendesis.

“Jadi, apa yang harus kita lakukan? Kembali ke sana atau…”

“Tidak, kita tidak usah kembali kita cari penginapan saja. Yoona dan Sehun perlu bicara”

“Kau yakin akan baik-baik saja?” tanya Jongdae ragu. Seohyun mengangguk mantap membuat Jongdae tak ada pilihan.

“Baiklah”

* * *

Yoona menggigit jarinya kesal. Sehun masih tak beranjak dari posisinya dan dia benci itu!

Dia benci memiliki perasaan khawatir akan namja itu. Yang benar saja! Udara malam terasa menyiksa tapi Sehun malah berdiri seolah menantangnya dan jelas itu membuatnya makin tak suka!

Yoona tak tahan. Dengan segera dia menghampiri Sehun dan menatapnya tajam. Berbanding terbalik dengan Sehun yang menatapnya lembut seolah secercah harapan dapat dia raih kini.

“Kenapa kau disini?! Pergilah! Apa kau mau sakit hah?! Sebentar lagi hujan! Tidakkah kau punya otak?!” Yoona mungkin terdengar kasar tapi sungguh dia cemas pada keadaan Sehun. Bibirnya yang biasa merah menggoda sekarang telah memutih akibat terlalu lama diluar. Dan Yoona tak bercanda. Kilat dan petir yang berlomba mendominasi langit telah menunjukkan gerbang kedatangan hujan.

Tapi Sehun dengan bodohnya malah tersenyum dan menatap Yoona lekat. “A… apa aku, dimaafkan?” tanyanya dengan suara bergetar.

Yoona mendecih. “Itu tak ada hubungannya dengan masalah kita! Sekarang masuklah dan hangatkan dirimu!”

Sehun menggeleng. “Ini hukumanku. Aku telah menyakitimu. Biarkan aku menerima dan menjalaninya. Sampai kau memaafkanku”

“Kau bodoh?! Kenapa keras kepala sekali! Jangan mencoba mengancamku dengan masalah kita! Aku benci dan aku tak pernah mau mencampur adukkannya! Bagiku hal itu tidak sesederhana kelihatannya! Ini tentang hatiku dan perasaanku, aku tak akan mendefinisikannya dengan mudah!” bentak Yoona.

Sehun diam. Matanya menyiratkan kekecewaan yang dengan cepat berganti kelembutan.

“Kau masih marah denganku…”

Yoona berdecak sebal. “Kalau begitu pergi dan matilah! Aku tak peduli lagi denganmu!” entah darimana dia bisa mendapatkan kalimat itu didalam mulutnya yang jelas Yoona segera berlalu dengan wajah kesal dan marah. Mengabaikan Sehun yang menatapnya hampa.

“Yoona…”

Yoona berhenti, namun tak berbalik untuk menatap Sehun.

“Aku ingin kau tahu kalau aku dan Akemi…”

“Cukup, aku tak mau mendengarnya!” potong Yoona cepat. “Itu membuatku muak!”

Sehun diam, terdengar helaan nafas kecewa karenanya. “Kalau begitu aku akan menunggu sampai kau siap”

Yoona mendengus. Api cemburu yang menyala didalam jiwanya telah membutakan hatinya. Dia berjalan tanpa menoleh lagi pada Sehun.

* * *

Sehun menatap sendu Yoona yang kian menjauh darinya. Airmatanya tertahan meski akhirnya jatuh juga.

“Kenapa tak mau memberiku kesempatan?” gumamnya.

* * *

“Aku khawatir. Bagaimana jika mereka malah berakhir semakin kacau?” Jongdae terdengar tak suka saat berbicara.

Seohyun meliriknya sekilas kemudian tersenyum geli. “Cemburu ya?”

Jongdae mendengus, kemudian menghela nafas berat. “Bohong kalau ku jawab tidak”

“Lalu kenapa membantu Sehun?” tanya Seohyun heran.

Jongdae terdiam sejenak. Matanya tampak menerawang. “Aku tak mau melihat Yoona menangis. Itu membuatku sakit”

“Sehun adalah sumbernya. Kenapa mendekatkannya dengan Yoona?”

Yak, apa kau pikir aku sejahat itu mau memisahkan mereka? Aigoo… bagaimanapun juga aku ini masih memiliki hati dan aku tahu diri. Yoona tak pernah bahagia ataupun menangis saat bersamaku, membuktikan dia tak memiliki rasa padaku. Tapi dengan Sehun, dia sangat ekspresif dan aku tak tega menghilangkannya dari dirinya. Yoona layak mendapatkan orang yang dia cintai dan mencintainya”

“Meski kau tersakiti?”

“Aku bisa cari wanita lain, meski mungkin agak lama dan sulit” jawab Jongdae cuek.

* * *

Esoknya…

Yoona segera beranjak dari tidurnya begitu kesadarannya sepenuhnya menghampirinya. Matahari belum terlalu meninggi dan Yoona sudah terjaga sejak tadi. Wajahnya terlihat gelisah. Memikirkan seseorang yang mungkin ada di luar.

Akhirnya dengan menguatkan hatinya Yoona memutuskan untuk keluar dan memastikan apakah Sehun masih ada atau tidak.

Dan hasilnya sangat mengecewakan.

Sehun tak ada. Membuktikan ketidak seriusannya dalam meraih cinta Yoona. Gadis itu mencibir. Sehun tak konsisten! Tapi tetap saja kakinya bergerak mencari keberadaan Sehun yang mungkin sudah bergeser derajatnya dari titik semula.

Yoona mendesah. Menatap kosong rumput-rumput liar halus yang sekarang dia tapaki. Entah kenapa ada rasa kehilangan dan juga kecewa yang melandanya ketika Sehun tak ditemukannya.

“Yoona…”

Yoona mengangkat wajahnya. Sedikit menyunggingkan senyum dan berbalik dengan bersemangat – bersiap menceramahi Sehun – hanya untuk menyaksikan raut bingung Jongdae dan Seohyun yang melihatnya keluar tanpa alas kaki.

Yoona menghela nafas. Kekecewaannya tak terbendung. Dia hampir menangis!

“Apa yang kau lakukan disini? Dan mana Sehun?” tanya Seohyun.

Molla, mungkin sudah mati!”

“Apa?”

“Aku tidak tahu dan jangan tanya aku! Semalaman dia menunggu diluar hanya agar aku maafkan! Tapi sekarang dia tak tahu kemana dan aku tak peduli!”

“Apa?!” Jongdae dan Seohyun berseru berbarengan hingga mengagetkan Yoona.

“Yoona apa kau gila?! Kau kejam sekali!” Seohyun tak kuasa menahan isi hatinya. Jongdae mengangguk setuju.

“Aku sudah menyuruhnya masuk tapi dia tak mau!” elak Yoona. “Dan lagi, dia tak ada saat pagi ini aku mencarinya! Dia tak bisa dipercaya! Dia bohong saat bilang kalau dia mencintai…”

“Dia mencintaimu!” ucapan Jongdae membuatnya heran. Kenapa tiba-tiba namja ini jadi memihak Sehun?

“Apa maksudmu?!”

“Dia selalu ada untukmu tidakkah kau pahami itu?! Kau pikir siapa yang membuatmu masuk dengan mudah di kampus? Sehun yang melakukannya! Segala fasilitas di kampus dan kemudahan saat kau belajar karena dosen yang baik padamu, itu karena siapa? Itu karena Sehun! Beasiswa yang kau pikir diberikan cuma-cuma pada rekeningmu oleh pihak kampus… itu adalah pemberian Sehun! Kau yang hanya mencoba menutup mata dari itu semua!”

“A…pa?” Yoona tergagap. Tak menyangka. “Kau bohong! Kau tau dengan jelas dia mempermainkanku!”

“Akemi dan dia tak pernah bertunangan!” kali ini Seohyun yang angkat bicara. “Dia mendekati Akemi demi kau Yoona! Akemi adalah putri mafia terkenal di Jepang. Ayah Sehun telah meninggal setahun yang lalu, ketika dia kembali ke Jepang. Saat itu terjadi, organisasi ayahnya terguncang. Musuh-musuh Sehun perlahan menunjukkan dirinya untuk menyerang Sehun. Tapi karena ada Akemi sebagai tamengnya, mereka segera mundur! Sehun tak mau mereka tahu keberadaanmu sebagai kekasihnya karena itu dia memutuskan komunikasi atau apapun bentuk hubungan darimu tapi percayalah Yoona, Sehun selalu mengawasi dan memperhatikanmu!”

Yoona terdiam, matanya mulai memanas. Penjelasan Seohyun dan Jongdae membuatnya tak bisa berpikir benar. Sesaat dia tampak linglung sebelum akhirnya berlari tanpa arah.

“Yoona!” panggil Jongdae dan Seohyun yang segera menyusulnya.

Yoona masih berlari. Kepalanya mulai dihinggapi berbagai kenangan dan perkataan Seohyun, Jongdae dan Sehun.

Dia melindungimu

Itu semua karena Sehun!

A… apa aku, dimaafkan?

Oh ya ampun! Bayangan terakhir dimana Sehun menatapnya sendu dengan wajah memelas telah menohok hatinya. Yoona merasa menjadi orang paling kejam karena telah berburuk sangka pada namja itu.

Yoona semakin mempercepat larinya. Dia ingin bertemu Sehun, memeluknya dan menjelaskan betapa dia telah berburuk sangka pada namja itu.

Tapi sejak tadi, nihil.

Sehun tak ada dimanapun. Mungkin dia pergi. Mungkin dia bosan dan lelah menjelaskannya pada Yoona yang dengan bodohnya tak mau memberinya kesempatan. Mungkin dia…

BRUK!

“Yoona!” teriakan Jongdae dan Seohyun menggema melihat Yoona yang tersandung dan terjatuh.

Yeoja itu meringis. Dan segera menangis. Betapa menyedihkannya dia! Setelah menjadi wanita paling bodoh dengan selalu salah paham pada Sehun kini dia telah jatuh tanpa ada yang bisa membantunya bangkit lagi.

“Hiks… hiks… aku sakit, Sehun…” isaknya.

Yoona menangis dengan suara keras. Mencoba mengekspresikan kegalauan hatinya. Lukanya tak seberapa di lututnya tapi sakit dihatinya telah meradang dan menganga. Yoona tak bisa tak merutuki nasib sialnya dalam hal percintaan.

Sebuah sentuhan terasa di kedua lengannya. Terasa begitu dingin dan menggetarkan. Yoona tak sanggup mengangkat wajahnya. Dia tak punya muka untuk bangkit kembali.

Tubuhnya yang lemah dengan mudah tegak kembali. Yoona masih tertunduk dengan wajah berlinangan airmata. Isakannya masih cukup keras.

“Apa rasanya sangat sakit?”

DEG!

Yoona segera mengangkat wajahnya. Dan jantungnya berdebar kencang melihat siapa yang kini ada dihadapannya. Sehun dengan tampilan berantakannya yang sumpah terlihat begitu keren menatapnya cemas dan heran sekaligus.

Yoona diam, tak tahu harus bicara apa. Dunianya terasa kosong sementara lidahnya kelu untuk berujar. Tak ada Jongdae, tak ada Seohyun, atau siapapun. Hanya ada dia dan Sehun.

“Sayang, kau baik-baik saja?” pertanyaan lembut Sehun membuai dirinya. Membuatnya melayang dan tanpa sadar Yoona menubruk tubuh Sehun dan memeluknya erat.

“Jangan pergi!”

Sehun terang saja heran. Matanya menatap Seohyun dan Jongdae yang hanya bisa mengendikkan bahunya. Dengan sedikit bingung Sehun membalas pelukan Yoona dan mengelus punggungnya untuk menenangkan.

“Ssst… jangan menangis. Ada aku disini hm?”

Tapi Yoona masih terisak dan mencengkram bajunya kuat. Membuat Sehun pasrah dan hanya bisa tersenyum sembari mengelus punggung dan rambutnya lembut. Mungkin dia butuh waktu.

“Aku sakit…” isak Yoona dengan nada manja.

Sehun melepaskan pelukannya dan berganti menggendongnya. Matanya melirik tak suka luka Yoona pada lutut. Namun segera dia tersenyum mempesona pada gadis itu.

“Kita obati ya? Jangan menangis” bujuknya sembari mencium dahi Yoona sekilas. Gadis itu hanya diam sembari menenggelamkan wajahnya di dada Sehun.

* * *

Jongdae cemberut. Seohyun mendengus. Sementara Yoona tampak cuek dengan bergelung manja di dekapan Sehun. Sejak tadi yeoja itu terus meminta perhatian Sehun. Seolah tak rela jika dunia namja itu teralihkan darinya. Jika sedikit saja pandangan Sehun menjauh darinya, Yoona akan segera meraih wajahnya dan mencium pipinya. Begitu terus berulang kali. Seolah gadis itu mencoba menyalurkan kerinduan yang terpendam dan kini meledak.

“Aku suka sup asparagus” ujarnya dengan nada manja. Tubuhnya semakin merapat pada Sehun yang mendudukkannya di pangkuannya.

Sehun tersenyum, kemudian menyendoknya dan menyuapkannya pada Yoona yang dengan senang hati menerimanya. “Benarkah? Ah melegakan. Sejak tadi aku terus berpikir sebaiknya membeli apa. Tak ada rumah makan disekitar sini yang buka pagi. Hanya ada sebuah kedai makan dan sup inilah yang baru siap”

“Kupikir kau pergi” Yoona cemberut sambil mengeratkan pelukannya pada leher Sehun.

Sehun terkekeh, dan dengan cepat mengecup bibir Yoona yang masih cemberut. “Mana mungkin aku pergi disaat kau sendiri. Maaf ya jika terlalu lama”

Yoona mendecih, tangannya menarik kerah baju Sehun dengan tatapan mengancam. Sementara Sehun menatapnya lembut.

“Aku belum terlalu memaafkanmu. Sekarang jelaskan apa hubunganmu dengan model Jepang itu?”

Sehun mengernyit kemudian berdehem sekilas. “Aku tak ada hubungan apapun selain teman dengannya, sayang…”

“Tapi dia terlihat mencintaimu” rengek Yoona.

Tak tahan melihat kemesraan Yoona dan Sehun, Seohyun dan Jongdae akhirnya memilih menyingkir. Yoona menatap penuh rasa bersalah pada Jongdae yang menyunggingkan senyum terpaksa padanya. Sehun yang melihatnya cemburu dan langsung mengecup dahi Yoona agar pandangannya teralihkan lagi padanya.

CHU~

“Ok, jadi dia mencintaimu?” tanya Yoona seolah menginterogasi.

Sehun menatap Yoona lekat lalu menghela nafas. “Iya, tapi sebenarnya…”

“Tuh ‘kan dia mencintaimu dan aku yakin dia mantan…”

“Sayang, biar aku menyelesaikannya dulu hm?”

Yoona mendengus meski akhirnya mengangguk. Sehun menatapnya gemas lalu mengacak rambutnya sejenak.

“Akemi dan aku tumbuh bersama sejak kecil. Kami tidak terpisahkan. Dulu aku pernah berjanji akan menjadi sandaran bagi Akemi”

“Lalu?!” Yoona mulai merasa cemburu.

Sehun tersenyum menyadarinya, dengan segera dikecupnya bibir Yoona hingga membuat pipi yeoja itu memerah.

“Aku melakukannya karena Akemi kurang kasih sayang dari orangtuanya. Mereka workaholic dan sering bepergian. Akemi menjadi kesepian dan alasan utama aku memperhatikannya adalah karena sebelumnya dia… lesbian”

“Apa?! Tapi…”

“Kakak perempuannya satu-satunya meninggal karena HIV dan dia pernah dilecehkan saat masih kecil. Membuat dia trauma dan akhirnya memiliki kelainan. Parahnya, dia menyukai Sena. Adikku. Dia sangat akrab dengan Sena sampai akhirnya Sena tahu kalau dia lesbian karena Akemi menciumnya. Sena marah dan segera menganggap Akemi monster. Sena memutuskan hubungan persahabatan mereka dan berkata kasar padanya. Akemi saat itu menangis dan sangat terluka. Aku kasihan padanya. Bahkan ketika Sena – yang menurut ayahku masih hidup – hilang, Akemi masih saja mengharapkannya. Akhirnya aku, dengan segala rasa kasihanku bermaksud membantunya. Dia benar-benar menyedihkan. Dulu orangtuanya benar-benar tak mempedulikannya sama sekali. Akemi hanya memiliki aku sebagai teman, kakak dan orangtua baginya. Dan aku pun tidak pernah mempermasalahkan dia yang selalu mencari gara-gara dengan kekasih-kekasihku”

Sehun berhenti sejenak, memperhatikan reaksi Yoona yang hanya diam saja.

“Kami tumbuh dewasa bersama. Hingga aku tak sadar kalau perhatianku membuat Akemi tersentuh dan perlahan kembali normal. Dia mencintaiku dan aku tak pernah menolaknya. Tapi suatu hari, dia memiliki pekerjaan di London. Awalnya aku kabur ingin menyusulnya, tapi yang ada aku malah bertemu denganmu dan jatuh cinta”

Yoona tersipu mendengarnya. “Tapi kau tak pernah membahasnya. Lalu kenapa kau memilih mengejar Akemi dibandingkan bersamaku?”

“Bersamamu membuatku lupa pada segalanya bahkan pada Akemi” jelas Sehun. “Dan alasan aku menyusulnya adalah karena aku tidak mau hal buruk terjadi padanya. Dia itu suka linglung kalau terlalu sedih atau senang. Aku takut dia celaka karena tak bisa menerima kenyataan kalau aku memilihmu. Aku khawatir dia menabrak mobil atau bunuh diri. Maka itu aku menyuruhmu menunggu sementara aku memberi pengertian pada Akemi terlebih dahulu. Sejujurnya aku merasa bersalah padanya. Dulu aku benar-benar tulus berteman dengannya. Tapi kini aku malah memanfaatkannya. Aku menjadikannya tameng agar tak ada yang tahu kalau kekasihku adalah kau. Mereka segan akan status Akemi sebagai putri semata wayang mr. Hayashi. Dan… aku meminta bantuan ayahnya untuk mengurus masalah mentri Jang serta melobi rekan ayahku”

“Mentri Jang?”

“Ya…” Sehun tampak ragu sesaat. “Kau tahu bukan mentri keuangan periode 1994? Dulu ayahku bekerja dengannya. Tapi dia malah ingin melecehkan ibuku. Membuat ayahku tanpa sadar membunuhnya karena marah dan melarikan uangnya ke Jepang. Ayahku lalu mengganti identitasnya dan membangun organisasi atas bantuan kakek Akemi”

Yoona mengangguk paham. Kini semua terasa jelas baginya.

“Jadi sebenarnya kau tak ada maksud menyakitiku saat kau bersama Akemi di mall?”

Sehun mengangguk. “Aku marah dan cemburu karena kau bersama Jongdae. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Ada banyak orang yang mengawasiku. Dan alasan aku tak menghubungimu adalah karena percakapanku selalu disadap dengan mudah oleh musuh-musuh ayahku. Aku jadi tak ada cara selain mengawasimu dari jauh”

Yoona benar-benar terharu mendengarnya. Betapa bodohnya dia telah berburuk sangka pada Sehun!

“Maaf, aku benar-benar kekanakan. Aku tak pernah mengerti betapa sulitnya kau”

Sehun tersenyum kemudian memeluk Yoona erat. “Maaf juga kalau sikapku membuatmu bingung. Aku harus selalu berhati-hati dalam bertindak. Tapi percayalah, sekarang aku sudah mengurusnya. Bahkan Akemi juga takkan menganggu kita lagi”

“Kenapa?”

“Dia akan bertunangan dengan Shinici, awalnya ayahnya ingin aku yang bertunangan dengannya. Tapi aku menolaknya terus jadi dia menyerah”

Yoona cemberut mendengarnya. “Bahkan ayahnya menyukaimu…”

“Tentu saja, aku ‘kan paket lengkap. Tampan, mempesona, kaya dan perhatian”

“Issh… narsis!”

“Tapi kau suka ‘kan?”

“Iya!” Jawab Yoona malu-malu. “Aku suka… aniya, aku cinta Oh Sehun!”

Sehun tersenyum. Namja itu meraih wajah Yoona dan mengecup bibirnya lembut.

“Aku juga mencintaimu” bisiknya. “Jangan salah paham lagi ya. Kau tahu, sulit bagiku untuk mencari waktu yang tepat menjelaskannya padamu. Aku takut kau tak mengerti atau parahnya kau terbebani karena berkencan dengan namja yakuza sepertiku”

“Maaf, aku tak ada maksud mengatakan kau menjijikkan. Aku hanya marah…” Yoona terlihat menyesal sembari memeluk Sehun.

“Aku paham” Sehun membalas pelukannya dan mengecup dahinya singkat. Keduanya kini tampak menikmati situasi yang ada.

* * *

“Kenapa melihat namjaku seperti itu?!” Yoona merengut sembari mendelik pada Seohyun yang berdehem salah tingkah.

“Habis dia tampan” celetuk Seohyun.

“Apa?!” Yoona menatap Sehun dan bersikap seakan ingin menangis. Membuat Sehun terkekeh dan mengelus punggungnya untuk menenangkan.

“Dia hanya bercanda…” bisiknya.

“Tapi terdengar tidak!” elak Yoona.

“Astaga aku benar-benar hanya bercanda Yoong!” timpal Seohyun. Jongdae yang sejak tadi hanya diam mendengus dan memilih masuk ke kamarnya. Yoona yang melihatnya merasa bersalah jadinya. Mungkin sebaiknya dia mencarikan gadis untuk namja itu.

“Jangan meliriknya terus!” teguran bernada cemburu dari Sehun membuat Yoona menoleh dan tersenyum geli. Lucu sekali. Yoona baru sadar. Kini dia dan Sehun tampak seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta. Bergantian cemburu.

CHU~

“Sekalipun mataku melihat pada yang lain, hati ku ‘kan hanya milikmu” rayu Yoona.

Sehun diam, wajahnya tampak masih kesal meski akhirnya dia tak tahan dan akhirnya tersenyum juga. Dengan cepat dipeluknya Yoona erat dan dikecupnya wajah yeoja itu dengan rakus.

* * *

Empat bulan kemudian…

“Aku mau melihat Takuya…” rengek yeoja bermata indah itu. Di sampingnya, namja berwajah dingin tampak cemberut.

“Aku kurang tampan apa sih dibandingkan si tua…” Sehun segera membungkam mulutnya begitu Yoona memelototinya tajam.

“Berani menghinanya, jangan harap dapat ciuman selama sebulan! Ah iya, jangan harap juga aku mau bertemu denganmu!” ancaman Yoona sukses membuat Sehun tak berdaya. Namja itu melirik pasangan Jongdae dan Seohyun yang telah resmi berkencan selama dua minggu. Sepertinya Yoona berbakat menjadi mak comblang karena berkat dirinya mereka bisa bersatu.

Baguslah, setidaknya pesaingnya telah berkurang. batin Sehun senang.

Chagi nanti aku mau makan mie China!” rengek Seohyun. Jongdae tersenyum kemudian mengangguk.

“Baiklah!”

Sehun mendengus. Matanya melirik Yoona yang masih asik membaca majalah yang mengulas tentang profil Takuya Kimura.

“Sayang…” panggilnya sembari mendekat pada Yoona yang masih mengabaikannya. Sehun mendecih. Dia ‘kan juga ingin manja-manjaan dengan kekasihnya!

“Sayang…” panggilnya lagi.

“Apa?” tanya Yoona sembari menatapnya heran.

“Cium…” jawab Sehun manja sambil menunjuk bibirnya dengan wajah imut.

Yoona menatapnya geli. “Aku dapat apa dengan menciummu?”

“Kau dapat cintaku” jawab Sehun sambil cengengesan.

“Issh… itu tak bisa dimakan!”

Mwo? Kenapa kau jadi matrealistis begini?” tanya Sehun dengan wajah cemberut.

Yoona memiringkan kepalanya. Membuat Sehun gemas. “Punya pacar CEO Estat, kenapa tak dimanfaatkan?” godanya.

“Jadi aku ini investasi begitu?” keluh Sehun.

Yoona terkekeh mendengar gerutuan Sehun. Sementara namja itu makin cemberut.

“Aku beri mobil saja bagaimana?” tawarnya akhirnya. Yoona kembali terkekeh. Sehun benar-benar polos!

“Aku mau!” jawab Seohyun cepat. Sehun mendengus.

“Minta sana sama pacarmu!” cibirnya. Seohyun cemberut mendengarnya sementara Yoona dan Jongdae tertawa.

Yoona mendekati Sehun. Meraih tengkuknya dan…

CHU~

Sehun menahan tengkuk Yoona ketika yeoja itu akan melepasnya. Membuat pagutan mereka masih menyatu. Sehun dengan lihai memasukkan lidahnya dan bertukar saliva didalamnya. Yoona sedikit kesulitan akan keagresifan Sehun.

“Ehem, get a room please” teguran Seohyun membuat Yoona mendorong dada Sehun dengan wajah memerah. Sehun mendecih, kemudian melotot pada Seohyun dan Jongdae.

“Issh… benar-benar menganggu. Ayo sayang kita pergi saja. Biarkan mereka berdua disini!” serunya sembari menyeret Yoona.

* * *

“Woah!” Seru Yoona sembari menatap salju yang perlahan turun dari langit. Sepertinya musim dingin sudah datang.

Sehun tersenyum. Tangannya meraih tangan Yoona dan memasukkan kedalam mantel hangatnya. Membuat Yoona menoleh padanya.

“Dingin ya sayang? Kemarikan tanganmu yang satunya…” ujar Sehun lembut sembari meraih tangan Yoona yang satunya dan menggosok-gosok dengan tangannya. Yoona tersenyum dan menempelkannya di pipi Sehun yang terlihat pucat.

CHU~

“Terimakasih!” ujarnya. Sehun tertegun. Tak menyangka kalau Yoona akan mencium bibirnya di tengah padatnya kondisi saat ini.

“Sedang ramai nona” ujar Sehun berpura-pura tak suka.

“Biasa juga kau begitu” cibir Yoona. Sehun terkekeh sembari memeluk Yoona tanpa malu jadi pusat perhatian.

“Menikahlah denganku”

“Apa?” Yoona segera melepaskan pelukannya dan menatap Sehun heran. “Kau gila, aku masih kuliah! Begitu juga kau! Meski kau seorang CEO tapi kau ‘kan masih di bantu oleh oranglain!”

“Aku tahu”

“Lalu?” Yoona menatapnya heran.

“Aku hanya tak sabar ingin mengklaimmu!” bisik Sehun dengan nada sensual. Yoona yang mendengarnya tersipu malu.

“Mesum!”

“Kau sudah mencuri hatiku… berarti kau harus bertanggung jawab dengan menjadikan aku sebagai pendampingmu” elak Sehun. Namja itu kembali memeluk Yoona yang tampak gugup.

“Jadi sekarang bagaimana ya? Aku akan membawa Choi ahjumma, Soojung dan kekasihnya kesini agar bisa melihat kita menikah. Lalu setelah itu kita punya anak yang lucu…”

“Apapun itu, terdengar menyenangkan. Tapi aku belum siap…” bisik Yoona.

Sehun diam, kemudian tersenyum. “Aku tahu, aku hanya ingin membayangkannya saja. Tapi kau harus menandatangani hitam diatas putih”

“Maksudnya?”

“Kau harus bersumpah. Kau bersalah dan harus dipenjara”

“Apa?!”

Sehun terkekeh dan mengecup dahi Yoona sekilas.

“Mencuri hati itu kejahatan kau tahu? Kau membuatku hanya memikirkanmu, menginginkanmu dan membutuhkanmu. Kau harus di penjara seumur hidupmu. Menikah, memiliki anak-anak yang lucu, bahagia dan tua bersama selamanya. Bagaimana, sanggup kau menjalani hukumanmu nyonya Oh?”

Yoona diam, matanya tampak berkaca-kaca mendengarnya. Apa ini lamaran?

“Kalau begitu kau harus ikhlas menjalaninya bersamaku. Kau juga telah mencuri hatiku”

“Ehm…” Sehun tampak berpikir dan jujur itu membuat Yoona panik. Takut Sehun berubah pikiran.

“Aku lebih memilih terjebak bersamamu selamanya. Bagaimana?” tapi pertanyaan Sehun menghilangkan semua keraguannya. Yoona tersenyum, begitu juga Sehun.

Perlahan keduanya saling mendekatkan wajahnya. Menatap lekat satu sama lain sebelum akhirnya memejamkan mata dan menyatukan kedua bibir mereka dengan sempurna. Menikmati dinginnya angin yang membalut kehangatan cinta mereka.

“Aku mencintaimu…” bisik Sehun di sela-sela ciuman mereka.

Yoona tersenyum kemudian mengangguk. “Aku tahu…”

END

Duh maaf sekali kalau hasilnya malah begini 😥

Dan juga maaf karena baru bisa post sekarang padahal saya udah bilang bakal post waktu lebaran. Huhu saya baru sembuh dari sakit nih. Jadi ceritanya waktu saya sedang sibuk mengetik ria, sepupu sama temen-temen saya dateng ke rumah. Dan karena mereka banyak yang masih muda jadi gaulnya sama saya dong, biar klop. So, waktu mesra sama laptop pun berkurang. Saya jalan-jalan kesana kemari mencari alamat #eh?

Tapi kehujanan duh.. dan akhirnya saya sakit. Dokter nyuruh buat istirahat biar cepet sembuh. Jadi laptop disita dan saya gak bisa publish.. untung sekarang udah sembuh XD #nahlohjadicurhat -_-

Buat yang nungguin dan baca makasih ya. Karena saya merasa bersalah udah phpin jadi ga ada yang saya pw nih ff. Makanya rclnya jangan lupa ya XD siapa tahu entar saya bikin ff baru terus ada yang pw terus ada yang ngaku readers baru padahal siders yang baru tobat -_- gak bakal saya kasih!! :p

Finally, sekian dan terimakasih. Ketemu di ff selanjutnya yaaa…

Annyeong!

70 pemikiran pada “Robber Of My Heart (Part 10) – Final

  1. Ooh akhirnya’…stelah sekian lama gak muncul.
    Akhirnya semua masalah tersesaikan dg smpurna ….happy ending.
    Boleh minta sequel gak??hehehe

  2. Finally, happy ending. Akhirnya semua kesalah pahaman terselesaikan. YoonHunnya mesra banget deh, dikit2 ciuman mulu. Cie ada pasangan baru nih *lirik Seohyun-Jongdae*. G nyangka kalau selama ini Sehun itu memperhatikan Yoona dan melindungi Yoona walaupun dari jauh.

  3. Qoaawoaa finally ending. Hiks hiks sempet nyesek pas hun ngejar akemi. Tp tenang aja hun udh cinta mati am yoong. Jd g bakal pindah. Yeyeye bertha aku request yoonhae ff dong klo ga yoonhun. Aku syuuka cerita mu.

  4. Yeeeyyy….happy end,setelah sekian lama bikin ngreget nih kisah cinta mereka dan kini berakhir bahagia 🙂
    senang nya..
    Semua ff mu semua nya daebakk

  5. yeay…happy ending ya
    merakaitu lucu kalo bersama dikirainy sehun ninggalin yoona
    tak disangka dia tetap memperhatikan yoona
    moga ada fanfic sehun yoona yang lebih seru lg ditunggu karya2 yoonhun:D

  6. Sumpah endingnya greget, semua feel campur adukk kaya cintaku sama yeol /?
    SeoDae(seo jongdae) kencan? Seh, udah move on si jongdae rupanya wk..
    Itu si sehun mesum amat -_-
    Keknya sehun ga bisa lepas ya dari bibir Yoona wkwkw? Lah akunya kapan hun? *elus manja di dada nya sehun* *dicampak sehun* wkwk :3
    Sering2 buat ff yoonhun thorr
    Maaf baru balas , wifi dimatikan, dan ga biasa make kuota, :v no ff no life thor #curhat :v

  7. sesungguhnya yoonhun, saling cemburu.. haduh sukanya saya disaat Mrka saling cemburu..
    itu feel sedihnya dpet bgt, wktu yoona marah2 ke sehun, akunya jd gk tega..
    tp akhirnya yoona gk salah paham lagi. huwaa. senangnya, Happy end. ditunggu pernikahannya ^^

  8. Halo thor!!!
    Hehehe kayaknya ini ketinggalan baca y?
    Soalny sekolah mulai masuk dan mulai belajar banyak pr. In ipun comment saat jam 23.28 ini barus seleasi buat rangkuman besok
    hahaha i know that crazy
    #abaikan.
    Lama juga y ngomong-ngomong nunggu ff ini sampe bosen waktu sebelum sekolah. Berkali-kali buka page eh? Belum ad. Tapi baru sekarang buka page sdh ada chap 10. Final lagi. Duh seneg deh reader. Dikirain Sehun deketin Yoona itu berbeda dari jalan chap 10. Karena aku berpikir kl nambah berat cobaan mereka kan nambah seru?.-.
    #ngerepotin. Tapi aku selalu begitu minta cerita yang lebih ekstrim,menantang,seru, dll tapi gk seneng yg gemesin
    Bikin kesel. Sudah itu yoona sedikit keras kepala y? Garanya sehun jadi kedinginan dan akemi itu harusny gk meluk sehun biar gk ad kesalah pahaman #gkserudong?. Dan soal jongdae dan seohyun jadian duh gk tau ngomong apa tapi menurut reader seohyun itu gk cocok sm chen cocokny sm chanyeol? .-.
    #nihreaderbnykminta. Pas denger akemi itu lesbian jadi ngeri nih reader #takut tapi sehun dengan baik hati nolong. Tapi untung happy ending. Kl sad ending jadi lesu mau baca nanti akhir-akhirnya nangis.
    Yang reader seneng dr ff author itu karena romantis,seru,gemesin,hebat,dll. Yang paling seneng waktu moment yoona-sehun duh so sweet #gksanggupbayangin
    Thor rajin-rajin y? Buat ff yoonhun hahahaha
    Nih para reader selalu dukung
    Bye thor sampe ketemu di ff yoonhun selanjutnya!!! ^^

  9. WOhooo

    HAppy end 🎉🎉 ahaha.. ughh awal”.a bkn hayati sedih unnie 😢😢. Trs bkn greget jg pas yoona gk mau dgrin alasan abang cadel ouchhh.. its hurt.

    But yeayyy akhr.a bersatu jg ahaha. TRs couple seojong gk nyangka bingo ehehe.. overall its a great story dh unn👍 .meski ttp yg bgs th ff unni yg faithfull love y? Kl gk salah itu si cadel jadi vampire ehehe. Req yg genre vampire /fantasy dunk unn ehehe..

    Btw. Get Well Soon unnie. Keep write and be a great writer😘😄😁

  10. Akhirnya Happy Ending Juga Eonn ^^
    Sebenarnya Masi kesel sma Sehun oppa -_- E,e ternyta Itu cuma salah paham , ^^
    sehun oppa sma Yoona Eonni sweet amat ^^ akhirnya seo eonni sma jongdae oppa kencan juga ^^ sehun oppa mesum amat ‘-‘
    Berharap ada sequel nya Eonn ^^
    Ffnya Jjang~jjang Eonn ^^

Be A Good Readers With Your Comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s