[2/3] Twins?


twins2

Title : Twins?

Author : Shin

Main Cast : Im Yoona, Lee Donghae

Supporting Cast : Find by yourself

Genre : Romance, friendship, family, AU, angst, marriage life

Rating : PG-17

Poster : Mutia.R @Yeoja_EXO (Thanks buat cover kerennya kak 😀 )

Note : Perlu diingat kalau ff ini milik author sepenuhnya, sedangkan Yoona, dan semua yang author masukkan dalam ff ini merupakan milik Tuhan, keluarga dan teman mereka. Jadi untuk yang gak suka ama pairingnya, don’t bash ok?? terus kalo ada typo nya… hemm author harap readers bisa maklum dan maafin author #pake wajah melas 😀

Biar gak bingung, saya ingatkan sekali lagi ya… Haena itu adalah Donghae yang menyamar sebagai perempuan untuk mendekati Yoona. Jadi kalau ada nama Haena yang muncul, silahkan kalian bayangkan Donghae dalam wujud perempuan #meski mungkin sulit -_-

PREVIOUS >> Part 1

DON’T BE PLAGIATOR OK, Hargailah orang lain jika anda ingin dihargai..!

^_^ Happy reading ~ I Hope you like it..^_^

* * *

Dingin. Yoona putuskan untuk semakin bergelung dalam nyamannya selimut tebal dan kasur hangatnya. Masa bodohlah dengan panas sang mentari yang mulai meninggi dan memaksanya untuk bangun pagi.

“Yoona-ssi…”

Yoona mendesah dalam tidurnya, wajahnya nampak kesal dengan dahi berkerut.

“Yoona-ssi..”

Shit! 

Kurang ajar betul orang yang sudah menganggu tidurnya ini! Tidak tahukah dia kalau Yoona butuh tidur yang cukup setelah kemarin-kemarin dia harus bekerja keras agar tetap hidup di dunia luar?! Sialan…

“Yoo…”

“Ah wae?!” tanpa sadar Yoona bangkit, tak tahan terus diguncang dalam buaian pulau bantalnya. Namun sedetik kemudian yeoja itu terdiam. Tersadar kalau dia tak patut untuk marah.

Haena berdiri dengan wajah kaget. Dia terlihat imut dengan rona merah di pipinya ketika melihat tampilan acak-acakan milik Yoona sekarang.

“Oh maaf… Haena. Aku kira kau… pelayan rumahku” gumamnya namun masih terdengar di telinga Haena.

Haena diam, kemudian tersenyum penuh pengertian. “Tidak apa-apa. Eumm… aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Juga, aku sudah memes…eh maksudku sudah memasak sarapan”

“Kau… menyiapkan air hangat dan sarapan untukku?” tanya Yoona terperangah.

Haena tersenyum dengan riangnya. Lalu mengangguk semangat. Yoona mendesah, cukup bingung akan sikap baik Haena padanya. Padahal yeoja itu jelas baru mengenal dirinya. Tapi masa bodohlah. Mungkin dia hanya mencoba bersikap baik karena pertolongannya.

“Gomawo Haena-yah” menyunggingkan senyum, Yoona menatap wajah Haena yang langsung memerah dengan sendirinya. Kemudian yeoja itu memilih mengambil handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi. Meninggalkan Haena yang tampak lega setelah dari tadi menahan nafas dan gairahnya melihat Yoona di pagi hari.

“Aigoo.. cantik. Dia cantik, ahh.. apa yang kau pikirkan eoh? Jangan berpikiran kotor, Lee Donghae!” gumamnya dengann wajah memerah.

* * *

“Wow!”

Yoona tak bisa tak ternganga saat melihat meja makan sudah penuh oleh berbagai makanan. Yeoja itu menatap Haena tak percaya lalu mengernyit.

“Kau… tidak salah memasak sebanyak ini? Bukankah kau… kau… kena rampok? Darimana kau dapat uang?” Yoona terlihat meringis sebentar. Takut Haena tersinggung atau trauma karena perkataannya.

Namun Donghae berwujud yeoja berotot itu malah tersenyum dengan manisnya untuk membalas ucapan Yoona. “Ne, tidak apa-apa ‘kan? Eunghh.. mengenai itu, aku tadi tak ada niat memasak banyak. Tapi ternyata temanku meminjamkanku uang. Dia datang saat kau sedang mandi dan buru-buru sekali tadi makanya tak sempat berpamitan padamu” Haena meringis kala menyadari kebohongan dalam jawabannya. Tadi saat pagi masih sangat buta Youngjae tampak sibuk sendiri dengan Jeon ahjussi. Pasalnya Donghae mengamuk karena makanan yang dia pesan belum sampai juga. Namja itu khawatir Yoona akan terbangun sebelum dia sempat menyajikannya. Jika itu terjadi maka habislah. Donghae akan langsung ketahuan jika Yoona mendapati keberadaannya bersama Youngjae dan Jeon ahjussi. Tapi untunglah dewi fortuna masih berpihak padanya. Jadi semua bisa berjalan sesuai rencana. Pokoknya mulai sekarang Donghae akan mempersiapkan dirinya agar bangun lebih awal dari Yoona agar bisa menyiapkan sarapan dan mencuci baju yeoja itu. Setidaknya yeojanya harus mendapat perlakuan istimewa selama dia disini bukan? Maka itu Donghae akan memastikan kalau Yoona akan makan teratur – bukan instan – dan hidup dalam lingkungan yang bersih selain dari rumahnya.

Kembali ke masa sekarang, Yoona tampak mengernyit lagi, dan hal itu membuat Haena tak karuan membayangkan alasannya tak tepat sasaran. Namun beberapa saat kemudian Yoona tersenyum sembari mengangguk kecil dan duduk di kursi. Haena menghela nafas. Lega.

“Yoona-ssi, makanlah ini. Ikannya masih sangat segar saat dimasak tadi” ujar Haena dengan lembut sembari memisahkan ikan dan tulangnya lalu memberikannya pada Yoona. Lalu dia tersenyum sendiri. Seperti mimpi saja! Donghae seolah jadi pemeran utama dalam sebuah drama bergenre marriage life. Meski sekarang keadaannya terbalik – karena seharusnya Yoona yang melayaninya – tapi tidak apalah. Pelan-pelan dia akan membuatnya pada yang semestinya.

Yeoja dihadapannya itu mengernyit akan sikap Haena. namun tak mau ambil pusing. Tangannya mulai meraih sumpit dan melahap ikan yang Haena sodorkan tersebut.

“Enak?” tanya Haena a.k.a Donghae penuh perhatian. Dia sangat suka melihat the real Yoona saat ini dalam jarak dekat.

“Ne” tapi Yoona hanya menyahut dengan wajah tak peduli. Seolah tenggelam akan nikmatnya sarapan yang Haena sajikan. Benar-benar mengabaikannya.

“Makan ini juga. Bukankah kau sangat suka salad ubur-ubur?” Haena semakin antusias dalam “merawat” Yoona. Tangannya tampak lincah meraih sebuah piring berisi makanan favorit Yoona lalu menaruhnya di dekat yeoja itu.

Yoona langsung menghentikan gerakannya. Matanya melirik tak percaya Haena.

“Kau… tau darimana aku suka salad ubur-ubur?” tanyanya bingung. Apa dia mengigau dalam tidurnya sampai Haena bisa tahu?, batinnya mulai menebak.

Haena tampak kaget. Sedetik kemudian dia merutuki dirinya yang sudah terlalu senang hingga akhirnya keceplosan. Aigoo…

“Benarkah? Aku.. aku tidak tahu. Aku hanya.. menebak saja” jawabnya gugup.

Yoona masih diam. Sepertinya dia masih meragu atas jawaban Haena.

“Salad ubur-ubur adalah makanan favoritku” ujar Haena setelah memutar otaknya dengan keras. “Karena itu aku memasaknya” lanjutnya.

“Oh, begitu….” Yoona tampak mengerti kali ini. Yeoja itu mengangguk pelan. Membuat Haena menarik nafas lega untuk yang kesekian kalinya.

Tiba-tiba Yoona kembali menatapnya lekat. Haena langsung tegang karenanya.

“Ada… ada apa Yoona-ssi?”

“Kau tidak makan? Kenapa aku baru sadar kalau sejak tadi kau sibuk menyuruhku makan sementara kau sendiri tak menyentuh makanan ini”

Oh tidak! Jangan sampai Yoona salah paham dengan berpikir Donghae akan meracuninya!, Haena mulai membatin dengan wajah gelisah.

Tiba-tiba saja wajahnya langsung kaku. Matanya melebar tak percaya ketika mendapat sodoran makanan dari Yoona. Yeoja itu menyumpit daging ikan yang ada di hadapan mereka lalu menyuapkannya pada Haena.

“Cobalah! Rasanya enak” ucap Yoona pelan namun sukses membuat jantung Haena seolah berloncatan.

“Yoo… Yoona-ssi, apa kau memberikannya padaku?” tanyanya masih tak percaya.

“Ne, shirreo?” tapi Yoona malah balik.

“Aniya!” sahut Haena cepat. “Aku suka! Sangat suka! Aku suka apapun yang kau berikan padaku!” jawabnya bersemangat. Bahkan terkesan berlebihan.

Yoona tertawa kecil mendengar dan melihat ekspresi Haena saat ini. Menurutnya yeoja ini lucu.

“Kalau kau suka, kenapa tak melahapnya? Tanganku pegal…” keluh Yoona berpura-pura untuk menggoda Haena.

Haena terlihat gugup. Perlahan dia membuka dan memasukannya kedalam mulutnya. Matanya sedikit berkaca dengan binar haru saat menatap Yoona yang juga menatapnya.

“Enak bukan?” tanya Yoona.

Haena mengangguk. Wajahnya terlihat senang sekali. Dia benar-benar terharu akan sikap hangat Yoona padanya.

“Kau harusnya mencobanya sejak tadi. Untung aku belum menghabiskannya” Yoona terkekeh sembari melanjutkan makannya.

“Terimakasih Yoona… Kau sangat baik” ucap Haena dengan lembut.

Yoona yang tadinya sibuk akan sarapannya menatap Haena yang masih terbawa akan perasaannya. Yeoja itu diam, namun kemudian menatap Haena dengan wajah menyelidik.

“Apa sebelumnya tak ada yang bersikap baik padamu?” tanyanya sembari menatap manik Haena. Membuatnya gugup setengah mati.

“Semua baik, tapi tak ada yang sehangat dirimu” ujarnya dengan senyum tulus. “Aku tak pernah benar-benar punya teman baik sejak SMA”

“Kenapa?”

“Kebanyakan mereka memanfaatkanku” raut sedih di wajah Haena membuat Yoona diam dan memperhatikannya seksama. “Mereka, apalagi laki-laki… hanya bisa melihat kelemahanku saja. Mereka tahu betapa aku sangat suka memiliki teman. Jadi mereka akan bersikap sangat baik di hadapanku agar aku mau mentraktir mereka atau melakukan apapun untuk mereka. Tapi di belakangku, mereka berbicara buruk tentangku”

“Mereka pantas mati” komentar Yoona sadis. Haena spontan menelan salivanya mendengar kalimat yang meluncur dari mulut gadis itu. Gila, frontal sekali!

“Laki-laki hanya tahu membuat masalah” lanjut Yoona. Namun wajahnya langsung terlihat tulus saat menatap Haena.

“Jangan khawatir, aku mau berteman denganmu. Mulai sekarang kau bisa mengandalkan aku”

Detik itu juga Haena seolah di bawa melayang ke langit ketujuh. Tingkat kepercayaan dirinya naik dengan sendirinya. Ucapan Yoona benar-benar menggedor semangatnya hingga di batas normal.

“Benarkah?” tanyanya dengan wajah takjub.

“Ne”

* * *

“Aku tidak yakin ini, tapi aku percaya Donghae bisa melakukannya”

“Kita berharap yang terbaik saja untuk mereka” harap ayah Yoona dengan wajah muram. Pasalnya dia merasa bersalah pada putri bungsunya itu. Bukankah mengirim Donghae berdua saja dengan Yoona termasuk hal kurang baik? Namun jaminan dari sang calon besan dan tekanan dari istrinya mau tak mau membuatnya mengalah. Setidaknya untuk saat ini.

“Mereka pasti bisa mengatasinya yeobo. Gokchongma” bisik istrinya lembut.

* * *

“Kau mau kemana?” Haena terlihat bingung saat matanya menangkap sosok yeoja cantik yang sudah berpakaian rapi dan seolah siap pergi kapanpun dia mau. Seingatnya shift Yoona kerja part time hari ini adalah sore hingga malam. Ya, itulah laporan dari Youngjae kemarin. Haena akan mencekiknya jika ternyata dia malah salah jadwal dalam mematai hidup Yoona.

“Kuliah” jawab Yoona singkat sembari masih berfokus pada sisiran surai coklat bergelombangnya.

“Oh iya, kau kuliah…” Haena pura-pura baru tahu padahal dia sudah lama tahu. Setidaknya masa lalu Yoona dari kecil sampai sekarang sudah dia dapatkan dari ibunya dan dia masukkan dalam otaknya agar menjadi ingatan permanen.

Yoona meliriknya, lalu menatapnya heran. “Apa yang akan kau lakukan saat aku kuliah?”

“Aku bekerja”

“Apa pekerjaanmu?” tiba-tiba Yoona jadi penasaran.

“Aku berada di bidang pengawasan” Haena terkekeh membayangkan dia sedang mengawasi gadisnya saat ini tanpa Yoona sadari sedikitpun.

“Kau manajer?”

“Eum… mungkin agak lebih tinggi”

“Di perusahaan?”

“Ya”

“Kau benar-benar tidak beruntung ya hingga saat dirampok kau berakhir kacau di tempat seperti ini?”

 “Ne, begitulah….” Haena canggung dengan sendirinya.

“Ini kunci cadangan” Yoona membuka laci yang berada di sisi ranjangnya lalu menyerahkan sebuah anak kunci yang dia lepas dari induknya. Miliknya. “Aku tak yakin pulang lebih dulu darimu. Jadi kau bisa langsung masuk tanpa harus menunggu nantinya”

“Lalu bagaimana kau akan makan siang?”

“Aku tidak terbiasa makan siang. Aku akan menggabungkannya dengan makan malam”

Sontak jawaban Yoona membuat Haena mengernyit.

Dia tidak mau yeojanya terus melakukan kebiasaan buruk itu.

“Dimana kau bekerja?”

“Wae?” tanya Yoona balik tanpa menoleh padanya. Masih sibuk akan penampilannya rupanya.

“Mungkin aku akan berkunjung?”

Yoona tertawa mendengarnya, lalu menatap lembut Haena. Ekspresinya sontak mengundang kebekuan dalam diri Haena. Oh, dia terlalu menyukai tawa yeoja itu ternyata!

 “Kau lucu Haena. Untuk apa kau mengunjungi tempatku bekerja?”

“Apa tidak boleh?” tanya Haena dengan wajah polos.

“Tentu saja boleh. Tempatku bekerja di buka untuk umum. Kau bisa datang ke mini market yang dekat dengan kosan kita ini”

Mendengar kata “kita” yang Yoona ucapkan membuat wajah Haena merah dengan sendirinya. Yeoja itu tampak tersenyum sendiri membayangkan kata “kita” itu terealisasi dalam bentuk pernikahan. Omo… pasti manis sekali! Haena tak bisa menahan wajah bahagianya saat itu juga.

Dan rupanya hal itu jadi perhatian Yoona. Yeoja itu mendekati Haena yang masih terlihat menikmati khayalannya. Yoona mengerutkan dahinya. Akhirnya dia memilih menyentuh bahu Haena sejenak. Tepatnya mencolek.

“Nde… nde ada apa sayang?” Haena langsung membekap mulutnya sendiri. Matanya tampak panik saat melihat raut kaget di wajah cantik Yoona.

Bagaimana tidak kaget jika Haena malah menyahut dengan reaksi berlebihan dan menghasilkan suara bariton khas seorang Lee Donghae? Ya Tuhan, selamatkanlah penyamarannya! Donghae tak henti-hentinya berdoa dalam hati.

“Kau baik-baik saja?” tanya Yoona pelan namun masih terdapat unsur curiga dalam pengucapan kalimatnya.

“Ne! Aku tadi.. tadi hanya latihan. Aku berusaha melucu Im Yoona…” Haena mulai tertawa dengan ekspresi dibuat-buat begitu juga dengan suara lembutnya.

Yoona sebenarnya ingin bertanya lagi. Namun dering ponselnya telah mengalihkan perhatiannya. Dia mengernyit saat mendapat pemberitahuan dari teman satu kelasnya kalau dia harus segera ke kampus karena ada kuis mendadak hari ini. Sial!

“Aku pergi” ujarnya dingin sembari meraih jaketnya. Haena terlihat bingung meski mengangguk paham.

Dia tampak melambai pada Yoona meski hanya pada punggungnya dan tentu saja tak dapat balasannya. Senyum terus terpatri di wajah cantiknya.

“Sampai jumpa lagi sayang! Belajarlah yang rajin. Jangan selingkuh atau melirik namja lain eoh? Oppa menunggumu….” tak lama dia terkekeh geli. Donghae tak tahu kalau bermain rumah-rumahan begitu menyenangkan!

* * *

“Anda terlihat senang sekali hari ini tuan”

Donghae tersenyum, lalu mengangguk dengan wajah bangga.

“Kau tahu, Yoona mau makan denganku! Dia bahkan menyuapiku!” serunya dengan wajah heboh.

“Benarkah?” Youngjae ikut senang.

Donghae mengangguk, lagi-lagi dengan wajah bangga. “Besok bawakan lagi! Tapi awas kalau sampai telat lagi! Aku akan memalu kepalamu Han Youngjae!” ancam Donghae.

“Aku mengerti tuan” Youngjae bergidik ngeri dengan wajah patuh.

“Yang sehat! Bahannya harus benar-benar organik. Aku tak mau memberi makanan sampah pada yeojaku”

“Ne”

Donghae tampak puas akan ketaatan Youngjae. “Bagus, jadi apa jadwalnya hari ini untukku? Pastikan tidak terlalu padat. Aku harus pulang sebelum Yoona pulang jadi aku bisa membawakan makanan untuknya”

“Tapi kerjasama dengan tuan Joo bagaimana? Rapat dengan tuan Seol dari Kangju Corporation? Saya rasa cukup memakan waktu yang lama tuan”

“Kau yang urus!” Donghae langsung terlihat emosi. Tak terima melihat wajah ragu Youngjae. “Aku memperkerjakanmu karena refrensimu baik. Jadi kau yang akan menggantikanku. Aku sibuk! Katakan begitu pada mereka” putus Donghae dengan wajah cuek.

“Tapi tuan….”

“Berani membantah eoh?” potong Donghae dengan wajah meremehkan. “Kudengar pekerjaan office boy banyak yang lowong. Kau mau menempatinya?”

Youngjae tentu saja menggeleng tak setuju. Yang benar saja! Dia adalah seorang sarjana cerdas dengan IPK terbaik di kampusnya dulu. Bagaimana bisa dia si cerdas berakhir menjadi seorang tukang bersih-bersih? Oh… big no! Menjadi sekretaris merangkap asisten Donghae saja bukanlah harapannya walaupun gajinya setara dengan ekspektasinya. Untuk saat ini, dia menikmati karirnya dan takkan mau terjerumus ke bawah.

“Apa anda juga akan menolak tawaran untuk menjadi narasumber untuk seminar di Dongguk hari ini?”

“Dongguk?” pertanyaan Youngjae membuat Donghae memutar otaknya cepat. Bukankah itu kampus Yoona?

“Kapan tawaran itu datang?”

“Kemarin. Anda dianggap sebagai narasumber yang tepat untuk memberikan motivasi pada generasi muda di universitas tersebut”

“Apa itu berarti semua mahasiswa dari seluruh fakultas akan hadir?”

“Ya, kurasa”

Senyum di wajah Donghae mengembang. Dia mengangguk kecil setelahnya.

“Setelah ku urus berkas-berkas ini kita langsung kesana” ujarnya bersemangat kemudian memilih hanyut dalam pekerjaannya yang tertumpuk di meja. Donghae duduk dan melepas jasnya. Menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku.

“Ne? Apa itu berarti anda setuju?” tanya Youngjae memastikan.

“Ya! Sudah sana pergi! Kau mengangguku untuk berkonsentrasi” perintahnya setengah mengusir. Youngjae mengangguk paham lalu keluar dengan langkah cepat.

* * *

“Apa kau mengantuk?” tanya Sooyoung, salah satu teman Yoona ketika melihat yeoja itu menguap beberapa kali.

Yeoja itu mengangguk lemas. Lalu menempelkan pipinya di meja kelas dengan wajah tak bersemangat.

“Ini waktu tidur siangku. Dan setelah ini aku harus bekerja paruh waktu” keluh Yoona.

Sooyoung menatap iba yeoja itu. Meski dia tak terlalu dekat dengan Yoona tapi mereka pernah satu sekolah saat SMP. Dan hubungan mereka cukup harmonis di masa lalu.

“Setengah jam lagi akan ada seminar. Kau tahu ‘kan kita wajib mengikutinya? Jangan langsung pulang, ini termasuk tugas dari Prof. Yoon” ujar Sooyoung mengingatkan.

“Ya….” Yoona lagi-lagi menguap. “Bangunkan saja aku saat waktunya sudah tiba”

“Apanya?”

“Seminarnya. Aku mau tidur sebentar”

“Baiklah”

* * *

“Tuan Donghae bilang nona Yoona memberinya ikan”

“Donghae memakannya?” ayahnya tak bisa menyembunyikan ketakjubannya manakala mendengar laporan dari Jiwoo.

“Ya, tuan”

Ayahnya berdecak kagum. Selama ini Donghae paling tidak suka makan ikan. Apapun jenisnya. Dia bilang dia tak suka bau amis dan berlendir dari ikan. Meskipun dimasak dalam berbagai bentuk tetap saja Donghae menolak untuk menerimanya sebagai asupan nutrisi bagi tubuhnya.

Seulas senyum terkembang di wajah Lee Junyeong. Putranya benar-benar sedang jatuh cinta saat ini.

* * *

“Apa… apa yang harus ku lakukan?” Donghae tampak gugup sendiri di dalam mobilnya. Saat ini mobil mewah tersebut sudah terparkir dengan rapi di depan universitas Dongguk. Wajah tampan namja itu pucat dengan ekspresi panik. Sungguh! Dia benar-benar bingung harus melakukan apa. Pasalnya berbagai rencana sedang bertabrakan didalam pikirannya dan membuat kepalanya nyaris pecah! Jadi sikap apa yang harus dia tunjukkan dihadapan Yoona nanti? Donghae pusing tujuh keliling!

“Tuan, saya rasa anda hanya perlu bersikap seperti biasa. Anda Lee Donghae, bukan Lee Haena. Anda tak perlu menjadi orang lain saat ini” saran Youngjae yang cukup risih melihat kepanikan Donghae yang dinilainya tak berdasar.

Kali ini wajah Donghae tampak tenang. Namja itu ternyata memikirkan dengan baik saran dari Youngjae.

Benar juga!

Kenapa dia harus berpura-pura jadi orang lain disaat dia menjadi dirinya sendiri?

Dia Lee Donghae sekarang. Bukan Lee Haena atau siapapun. Jadi dia hanya perlu bersikap seperti biasa. Berperilaku sebagai Lee Donghae yang penuh kuasa.

Senyum percaya diri mulai memenuhi wajahnya. Dia terlihat angkuh saat menegakkan kepalanya dengan tingkat kebanggaan di atas rata-rata.

“Kau benar Youngjae, aku pasti bisa memikat Yoona dengan pesona seorang Lee Donghae” ujarnya dengan seringai aneh.

* * *

“Yoona-yah… Im Yoona… Ireona!” bisik Sooyoung sembari mengguncang tubuh Yoona.

Yeoja itu masih memejamkan matanya. Melenguh dan mengeliat setelahnya.

“Wae?” tanyanya dengan suara serak khas orang baru bangun dari tidurnya.

“Seminarnya sudah dimulai” jawab Sooyoung.

“Oh, seminarnya sudah siap” gumam Yoona.

“Yoona-yah, berhentilah bersikap malas. Ada kehebohan yang terjadi di ruang seminar saat ini”

“Benarkah? Apa?”

“Ini tentang narasumbernya!”

“Memang kenapa narasumbernya? Biasanya kan para profesor berkepala licin dengan kalimat-kalimat membosankan” cibir Yoona merendahkan.

“Tidak! Yang ini beda! Kau pasti akan langsung ternganga”

“Memang apa yang istimewanya sampai kau terlihat semangat sekali?” tanya Yoona heran.

“Kau lihat sendiri saja nanti!”

* * *

Sooyoung benar. Yoona ternganga.

Bukan karena menyadari betapa tampan dan mudanya narasumber dalam seminar kali ini, melainkan karena mengetahui fakta siapa yang tengah berdiri dengan wajah serius dan pembawaan penuh wibawanya di balik mikrofon yang ada di mimbar panggung tersebut.

Donghae terlihat sangat menakjubkan. Sorot mata penuh ketegasan, rambut yang sedikit memanjang namun terlihat pantas untuknya, jas berwarna kecoklatan gelap yang dijahit membentuk lekuk tubuhnya membuat semua keindahan itu terjalin dalam satu kata. Sempurna. Ya, Yoona akui Donghae terlihat menawan dalam setelan khas eksekutif mudanya saat ini.

Cih, tapi kalau ingat kebelakang… Yoona serasa ingin muntah!

Membayangkan seorang Lee Donghae yang gagah dengan tanpa malu memilihkan lingerie dan celana dalam untuknya sontak membuat bulu kuduknya meremang. Sungguh mengerikan!

“Jadi sebagai generasi muda, ada baiknya mulai saat ini kalian membiasakan diri untuk bekerja. Tidak perlu di tempat yang bonafit atau terkenal. Temukan tempat dimana kalian bisa nyaman untuk waktu yang cukup lama. Setidaknya sebelum kalian lulus. Anggap itu sebagai suatu pengalaman sekaligus pembelajaran. Dari sana kalian bisa mengetahui betapa sulitnya hidup. Kalian akan menghargai setiap waktu yang kalian punya. Setiap uang yang kalian terima. Semua hal itu akan membuat kalian merasa puas akan pencapaian atas diri sendiri sekaligus memotivasi diri untuk mendapatkan yang lebih dari ini….”

Yoona tercenung. Menatap Donghae dengan seksama. Sekarang namja ini terlihat benar-benar bijaksana. Senyum manis yang menghiasi wajahnya pun menambah nilai plus dari dirinya. Yoona melirik ke sebelah. Sooyoung terpana tanpa berkedip. Begitu juga para mahasiswi yang lain. Yoona putus asa. Tentu saja mereka akan tertarik pada pria 33 tahun yang sudah mampu mendirikan perusahaan sendiri di usianya yang relatif muda dan terlihat begitu ramah dengan senyum di wajahnya.

Oh itu semua bohong!

Ingin rasanya Yoona meneriakkannya keras-keras. Agar semua tahu bagaimana menyebalkan dan mesumnya seorang Lee Donghae. Tapi itu tidak mungkin, ‘kan? Yoona putus asa lagi.

Alhasil, dia hanya bisa menatap dongkol Donghae yang menyelesaikan pidatonya dengan cemerlang. Good Job! Lihat betapa mudahnya dia menipu orang lain, batin Yoona.

* * *

“Tuan Lee bisakah kami berfoto bersama?”

Donghae melirik yeoja manis yang tampak malu dihadapannya itu. Namja itu tersenyum lalu menatap lembut yeoja tersebut dengan seksama.

“Siapa namamu?” tanyanya ramah.

“Kang Hyeju”

“Wah, nama yang manis semanis wajahmu” pujian Donghae membuat wajah yeoja itu memerah dengan sendirinya.

“Dan siapa namamu?” tanya Donghae pada temannya yang ada di sampingnya. Bertubuh gempal dan bermata sipit. Namun terlihat imut.

“Go Seorim”

“Go Seorim? Kau juga manis” puji Donghae. Lagi-lagi sukses membuat wajah yeoja bertubuh tambun itu memerah.

Dari jauh Yoona melirik sebal adegan tersebut.

Apa-apaan ini?, Batinnya teriak.

Sebenarnya apa yang sedang laki-laki itu coba lakukan? Apa dia sudah menemukan target baru? Mendadak Yoona semakin benci melihat Donghae terlihat begitu ramah pada mereka. Tangannya terkepal penuh amarah.

Loh, kenapa dengannya ini? Kenapa dia tak suka melihat Donghae akrab dengan orang lain? Bukankah itu haknya untuk dekat dengan siapa saja? Aigoo… ingat Yoona kau tak boleh marah! Dia tak berarti apa-apa untukmu, cam kan itu dalam otakmu!

“Yoona, dia terlihat ramah” bisikan dari Sooyoung membuyarkan lamunannya. Yoona kembali melirik Donghae. Luarbiasa, kini ada lebih banyak lagi yeoja yang mendekatinya.

Oh, tidak sadarkah mereka kalau sesungguhnya mereka seperti ngengat mengejar api? Lee Donghae itu seorang penjahat!

“Aku juga ingin berjabat tangan dengannya” Sooyoung melirik iri pada beberapa yeoja yang sudah berkenalan dengan Donghae. Tersenyum puas karena merasa mendapatkan perhatian namja itu.

Tapi mereka salah. Donghae sejak tadi tak tenang. Matanya diam-diam menyapu seluruh aula. Dia ingin menemukan gadisnya tanpa kentara.

Beruntung, matanya langsung menemukan sang target. Berdiri dengan wajah malas bersama seorang yeoja yang tampak begitu antusias dalam memandangnya. Donghae tersenyum, bersiap memulai aksinya.

“Maaf aku ada urusan” Donghae tersenyum tak enak meski dalam hati tak sabaran. “Sebenarnya tujuanku kesini selain menghadiri seminar juga ingin melihat tunanganku”

“Tunangan?!” Donghae rasa telinganya akan lepas seketika saat beberapa orang otomatis menjadi paduan suara dalam mengulangi kata terakhir dari kalimatnya.

“Kau punya tunangan?” ulang mereka lagi. Donghae mengangguk, kemudian telunjuknya terarah pada sosok gadis yang juga menatap mereka. Matanya terlihat bingung. Sooyoung juga sebelum akhirnya ikut melirik Yoona.

“Im Yoona?” serentak namanya melambung ke angkasa aula. Yoona langsung mengernyit. Apa maksudnya?

“Ne, dia tunanganku” dan jawaban enteng dari Donghae sudah menjawab semua kebingungannya.

Yoona mendecih, Donghae benar-benar bukan tipe yang gampang menyerah. Sialan.

* * *

“Kukira kalimatku kemarin sudah jelas tuan Lee yang terhormat” Yoona mendecih setelah mengucapkannya.

Donghae tersenyum, tak terganggu akan raut sebal dari sang yeoja dihadapannya.

“Kalimat yang mana calon nyonya Lee?” tanyanya polos.

“Tak usah pura-pura! Intinya mulai saat ini jauhi aku! Aku menolak jadi korbanmu”

“Astaga, kau ini benar-benar paranoid. Aku bukan orang jahat, sweetheart” Donghae menggeleng tak terima.

“Lalu siapa Yuri dan Eunseo? Kenapa kau membicarakan mereka seolah mereka korbanmu?”

“Butuh penjelasan nona?” Donghae tersenyum geli merasakan gelenyar cemburu dalam ucapan Yoona.

“Mereka fans dan mantan pacarku. Mereka gila kau tahu? Mereka harus ku singkirkan dalam hidupku agar tak menganggumu. Mereka terus mengejarku tanpa henti. Jadi tolong jangan salah paham akan kalimatku waktu itu”

“Oh…” Yoona mencoba cuek meski merasa aneh setelahnya. Kenapa dia senang merasakan kejujuran dalam kalimat Donghae? Oh, jangan tertipu Yoona! Bisa saja itu kamuflasenya.

“Tapi aku tetap tak mau jadi tunanganmu” putus Yoona setelah berpikir cukup lama. “Maaf tuan Lee, kau bisa cari wanita lain disini. Kukira kau bisa menemukannya bahkan kurang dari 10 menit” Yoona berdiri lalu membungkuk sedikit. Tak membiarkan Donghae membela diri.

Namja itu tersenyum kecil dengan perasaan kalah. Dia tak suka mendapat penolakan lagi.

“Tapi butuh waktu lama bagiku untuk bisa mengenalmu dan bicara denganmu. Apa kau pikir aku akan melepaskanmu setelah bisa meraihmu? Jangan harap nona Im” ucapnya penuh ambisi.

* * *

“Yoona kau benar-benar menakjubkan” Yoona memutar mata malas mendengar ucapan Sooyoung.

“Aku tak tahu kalau tuan Lee tunanganmu. Maaf aku tadi sempat berniat menggodanya” Sooyoung terlihat polos sekaligus lucu karena langsung tanpa malu mengakui niatnya.

“Tidak apa-apa. Lagipula kami memang tak ada hubungan” ujar Yoona tegas. Membuat Sooyoung jadi bingung.

* * *

“Dia benar-benar salah paham dan tak mau mengerti aku meski sudah ku jelaskan yang sebenarnya tentang mereka” Donghae cemberut selama dalam perjalanan pulang ke kosan Yoona. Sejujurnya dia frustasi!

“Dia hanya butuh waktu tuan” hibur Jiwoo.

“Sampai kapan dia menolakku terus? Sampai hormonku berubah menjadi seorang yeoja baru dia mau terbuka padaku?” tapi kini malah Donghae yang tampak kekanakan. Membuat Youngjae dan Jiwoon kompak menghela nafas.

“Ya, apa yang kalian lakukan! Berhenti! Jangan sampai kelewatan!” omel Donghae sembari merapikan wig dan juga bajunya. Sekilas dapat ditangkapnya seringai geli dari Youngjae dan Jiwoo. Sialan! Dia tahu dia terlihat aneh. Donghae tampak cantik tapi tubuh berototnya inilah yang mengacaukan segalanya! Double sialan!

“Jangan tertawa! Apa aku menyuruh kalian tertawa?!” Donghae melotot marah dengan wajah manyun.

* * *

Yoona pulang dalam keadaan lelah. Kepalanya pusing dan tubuhnya panas dingin. Yoona rasa dia akan demam. Karena itu dia meminta izin pada bosnya agar bisa di beri libur satu hari. Beruntung bosnya adalah pria baik dan mau mengerti keadaannya. Bahkan dia mau memberikan tambahan libur jika sakit Yoona bertambah parah.

Mata yeoja menyipit manakala menangkap sosok Haena yang terlihat menunduk sembari berbicara dengan seseorang yang duduk nyaman di kursi pengemudi sebuah mobil mewah.

Yoona mengamati dengan seksama mobil yang tampak familiar itu. Lalu mencoba mengingat-ingat. Hingga akhirnya tubuhnya menegang dengan ekspresi kesal.

“Ya Lee Haena!” teriakannya spontan membuat sang objek menatapnya. Wajahnya tampak pucat seketika.

“Yoo… Yoona-yah….” gumamnya panik. Keringat dingin mulai bercucuran dari dahinya. Oh tidak! Apakah ini akhir dari penyamarannya?

Yoona menatapnya tajam, lalu menunduk untuk melihat siapa yang ada di mobil tersebut. Yeoja itu langsung mendecih sebal setelahnya.

“Ya ahjussi, dan kau!” bentaknya.

“Ne, no… nona” keduanya tampak gugup saat Yoona menatap mereka intens.

Yoona mendengus, lalu menarik Haena untuk mendekat padanya.

“Jangan ganggu dia! Dia temanku! Apa kalian pikir aku akan membiarkannya masuk perangkap tuanmu yang jahat itu?” ucapan Yoona sontak membuat ketiganya menatap bingung Yoona.

“Aku sudah tahu kalau kalian orang jahat! Entah mucikari, gembong narkoba atau makelar perdagangan manusia… yang jelas aku akan melindunginya dari kalian!” Yoona rupanya mencoba membela Haena tanpa tahu persoalannya. Diam-diam Haena tersenyum geli dalam diamnya.

Jiwoo dan Youngjae tampak bingung sendiri. Mereka tak tahu harus menjawab apa atas tuduhan yang Yoona lancarkan.

“Sekarang pergilah! Atau aku akan berteriak kalau kalian adalah pria-pria mesum yang berusaha menjual gadis polos dan manis seperti kami!” ancaman Yoona membuat Jiwoo dan Youngjae makin bingung.

“Masih tak mau pergi juga?” Yoona menaikkan satu alisnya. Menantang. “Baiklah” yeoja itu menarik nafas kuat lalu menghembuskannya kuat. Pemanasan sebelum bertindak.

“Tolong! Ada dua pria sok gagah yang mencoba menyakiti kami, wanita lemah dan menawan. Ottheokkae? Tolong kami….”

Teriakan Yoona sontak membuat Jiwoo dan Youngjae panik. Mereka langsung buru-buru kabur sebelum di amuk massa.

Yoona tersenyum dengan puasnya melihat kepergian keduanya. Lalu matanya melirik Haena yang masih terdiam.

“Gwenchana Haena-yah?” tanyanya sembari mengelus lengan berotot Haena. Meski agak ganjil tapi Yoona tak mau ambil pusing.

“N… Ne” Haena terlihat gugup namun Yoona malah mengira dia ketakutan pada Jiwoo dan Youngjae.

“Mereka orang jahat. Bagaimana kau bisa bicara dengan mereka? Seharusnya kau abaikan saja mereka sebelum jadi korban. Untung aku cepat datang” Yoona terlihat bangga akan pencapaian tak berartinya. Haena langsung tersenyum miris.

“Maaf” ujarnya singkat.

“Arraseo, tidak perlu merasa bersalah. Kau tidak tahu apa-apa. Gwenchana, aku akan melindungimu dari orang-orang itu kalau nanti mereka datang lagi. Dan yang pasti, kau harus menghindar dari bosnya! Dia mengerikan” Yoona berjinjit untuk membisikan kalimat penuh peringatannya pada Haena.

Haena kembali tersenyum miris meski mengangguk menanggapi kalimat Yoona itu.

Aku harus menghindar dari diriku sendiri? Hmm…. Kau akan melindungiku Im Yoona? Aku bahkan lebih tinggi darimu….

* * *

“Halo Im Yoona sayang….”

Haena langsung memasang wajah waspada dengan delikan tajam. Siapa namja tak tahu malu yang sudah berani menegur yeojanya dengan nada semesra itu? Oh, cari mati rupanya!

Tangannya terkepal menahan amarah.

“Halo, Changmin” tapi Yoona malah tampak relaks dengan namja ini. Apa mungkin mereka ada hubungan?

Mendadak hati Haena terbakar memikirkan kemungkinan itu.

“Oh, dan siapa ini?” Changmin melirik Haena yang sejak tadi menatap tajam dirinya.

“Astaga Yoona, tatapannya membakarku” Changmin tersenyum dengan santainya. Haena mendengus. Aku akan langsung mengebirimu jika saja tak ada Yoona disini!, batinnya menjerit.

“Dia Lee Haena. Teman sekamarku”

“Kau mengizinkannya menjadi teman sekamarmu?” Changmin terlihat canggung. “Seingatku kau tidak suka berbagi ruangan dengan siapapun”

Hati Haena kembali mencelos. Namja ini bahkan tahu kepribadian Yoona! Huh, membuat panas saja!

“Dia berbeda. Dia punya masalah dan ku pikir tak ada salahnya membantunya” jawab Yoona.

Changmin terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk paham. “Well apapun alasannya, dia cukup manis dengan lengan berototnya. Semoga betah disini honey” Changmin mengedipkan matanya dan seketika membuat Haena siap muntah!

“Playboy cap ikan eoh?” gumam Haena cemberut. Sedetik yang lalu dia menggoda Yoona dan kini menggodanya?

“Jangan tersinggung” Yoona langsung menyadari raut wajah Haena setelah kepergian Changmin yang akan pulang ke kampung halamannya selama beberapa hari karena ibunya sakit.

“Mwo?” tanya Haena.

“Tentang Changmin” jawab Yoona sembari membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Di susul oleh Haena.

“Dia terlihat seperti seorang pemain ulung” cibir Haena. Lantas yeoja itu membuka lemari es dan meraih susu dinginnya dari pembeku.

“Dia gay. Dia bersikap baik pada siapapun terlebih laki-laki” namun ucapan Yoona membuat Haena langsung tersedak saat itu juga.

“Mwo? Jadi…”

“Ya” Yoona mengangguk dengan wajah geli melihat ekspresi Haena. “Dia tak ada nafsu dengan yeoja, tenang kau takkan di lecehkannya meski kau berotot seperti namja”

“Darimana kau tahu dia gay?” Haena masih tampak linglung.

“Aku memergokinya berciuman dengan seorang namja di antara lorong gelap menuju ke tempatku bekerja. Dia gugup saat itu dan langsung mengaku. Karena kasihan aku tak membeberkannya pada siapapun. Aku kasihan padanya. Dia mungkin tak ada pilihan selain menuruti orientasi seksnya”

“Dia gila” komentar Haena tanpa perasaan. “Tapi Yoona-yah aku boleh bertanya?”

“Tentang apa?”

“Kenapa kau tampak membenci namja? Ya, maksudnya kecuali Changmin karena dia gay”

Yoona diam, menghela nafas.

“Apa kau pikir aku seorang lesbian?”

“Bukan begitu! Aku hanya… hanya ingin tahu saja” Haena tampak gugup.

Yoona menghela nafas lagi. Entah kenapa dia tak ada niat untuk tak menceritakan alasannya pada Haena. Lucu sekali, padahal mereka baru bertemu. Tapi, ayolah! Yoona tak ada tempat untuk mencurahkan perasaannya saat ini selain pada Haena. Jadi, ya sudahlah….

* * *

Donghae terus menatap intens Yoona yang tengah terlelap. Lalu menghela nafas.

Gadisnya yang malang.

“Ibumu hanya tahu tentang kakak-kakakmu saja eoh? Tidak tahu hal yang menimpamu?” tanyanya menggumam.

Flashback

“Kakakku yang pertama, meninggal bunuh diri”

Haena mengangguk kecil. Dia tahu hal itu. Ibunya Yoona sudah menceritakannya padanya perihal tersebut.

“Dia di culik dan diperkosa oleh teman akrabnya yang terobsesi padanya. Beberapa hari kemudian dia tewas tergantung di kamarnya. Traumanya terlalu besar untuk memulai masa depan yang ada” Yoona menghela nafas kemudian.

“Semua orang mengira kakakku meninggal karena kecelakaan. Ada yang bilang dia tersetrum, jatuh atau apalah. Itu semua manipulasi ibuku. Dia tak mau nama keluarga kami tercemar”

Haena diam, masih mendengarkan cerita Yoona.

“Kakak keduaku gila” tenggorokan Yoona tercekat saat mengatakannya. Matanya tampak berkaca-kaca.

“Tunangannya yang sangat dia percaya tega meninggalkannya bersama selingkuhannya di hari pernikahan mereka. Kakakku terlalu sedih hingga mengalami gangguan mental” kini Yoona tertunduk dengan wajah sedih.

“Aku hidup kesepian selama bertahun-tahun. Kakak keduaku di rawat di rumah sakit jiwa dan orangtuaku sibuk meninggalkan rumah. Ayahku bekerja tak kenal lelah untuk mempertahankan apa yang ada di keluarganya. Ibuku juga tak bosan menyambung koneksi. Itu semua mereka lakukan agar aku bisa berdiri dengan tegak di hadapan orang-orang. Aku paham, aku harapan terakhir mereka. Tapi di detik terakhir, aku kembali harus mengecewakan mereka”

“Kau kabur dari rumah?”

“Ya”

“Apa kau juga memiliki masalah dengan namja?”

“Kekasihku yang dulu berselingkuh tanpa malu di depanku. Padahal aku sangat mencintainya. Aku bahkan hampir di perkosa olehnya tapi aku masih memaafkannya. Tapi setelah kami putus, dia dengan enteng menggandeng kekasih barunya dan mengatakan betapa buruknya aku selama menjalin hubungan dengannya. Masa SMA ku seperti neraka. Ada banyak yang prihatin padaku karena dicampakkan. Tapi lebih banyak yang menjudgeku bukan seseorang yang bisa menjalin hubungan dengan baik karenanya”

Tangan Haena terkepal. Kini pahamlah dia kenapa Yoona begitu membenci namja. Oh, betapa ingin dia membunuh namja-namja yang membuat Yoona anti pada dirinya itu!

“Saat itulah aku sadar, hanya ayahku saja namja yang bisa kupercaya di dunia ini”

Flashback End

Donghae kembali menghela nafas. Bangkit dari tidurnya dan langsung menatap Yoona sembari mengelus pipinya lembut.

“Jangan takut pada apapun lagi Im Yoona” bisiknya. “Aku tak seperti mereka, percayalah padaku”

* * *

TOK! TOK! CKLEK!

“Yaaaaa…” Haena langsung menjerit keras. Membuat Yoona yang setengah mengantuk langsung terbelalak dengan wajah malas.

“Wae?” tanyanya tanpa dosa sembari menguap.

Wajah Haena memerah. Terlebih saat menyaksikan Yoona yang langsung masuk dan tersenyum aneh padanya. Duh, untung tadi dia sudah selesai mandi! Kalau tidak… apa jadinya kalau Yoona melihat tubuh naked berotot khas namjanya?

“Aku tak tahan ingin pipis. Boleh ya? Silahkan lanjutkan kegiatanmu” ujar Yoona cuek.

Tentu saja Haena buru-buru kabur. Namja itu segera duduk di ranjangnya dengan wajah merah mirip kepiting rebus. Dikipasinya dengan cepat bagian leher dan wajahnya.

“Sial! Kenapa jadi aku yang malu?” tanyanya cemberut.

* * *

“Kau harus minum susu Im Yoona” Haena terlihat kesal saat Yoona malah mengabaikannya dan melahap sarapannya dengan semangat.

“Aku ada shift pagi hari ini. Dan aku juga tak suka susu. Tolong jangan paksa aku, Haena” Yoona segera meraih jaket dan tasnya.

Haena juga ikut sibuk. Namja itu tengah memakai celemek yang digunakannya sebagai alat kamuflase – kalau dia benar-benar memasak meski kenyataannya dia memesan – di hadapan Yoona.

“Baik, ini makan siangmu. Jangan lupa dimakan! Dan jangan pulang kemalaman!”

Yoona mengangguk paham. Tangannya dengan cepat mengambil paper bag yang Haena berikan padanya. Yeoja itu setengah berlari ke arah pintu keluar. Dia terlihat buru-buru hingga tak menyadari akan lantai yang baru saja di pel oleh Haena.

“Argghh…”

GREP!

Yoona terkejut, kemudian membeku. Begitu juga Haena. Keduanya terdiam dengan posisi Haena memeluk Yoona dari belakang karena meraih tubuh yeoja itu yang akan terpeleset. Mendadak keduanya jadi canggung dengan sendirinya.

Deg… deg…

Ada apa ini?,  Yoona membatin dalam hati. Pasalnya baru kali ini dia merasakan jantungnya berdebar begitu kencang. Dan anehnya ini dengan yeoja!

Sadar kalau dia tak sepantasnya melakukan adegan lovey-dovey dengan Haena yang setahunya adalah yeoja Yoona segera melepaskan dirinya dengan cepat. Kemudian berdehem canggung.

“Aku pergi” ujarnya dingin dan segera keluar. Yeoja itu terlihat bingung sendiri setelah agak jauh dari kosannya.

“Kenapa… kenapa aku begini? Aku tak pernah merasa canggung dan malu begini. Apalagi Haena… yeoja” gumamnya. Yoona langsung tampak kaget memikirkan kemungkinan yang terbayang dalam otaknya.

“Aku tak mungkin menyukai yeoja bukan?” gumamnya panik.

Sementara Haena yang tak lain adalah Donghae ikut tersenyum dengan raut bahagia.

“Kalau begini kami seperti pasangan yang sudah menikah saja” Donghae kembali tersipu sendiri. “Tapi kenapa malah aku yang seperti istrinya? Aku membersihkan tempat ini dan menyiapkan makanan serta keperluannya. Dan dia bekerja? Aigoo….”

Namun namja itu segera panik saat tak sengaja melihat jam di dinding kosan tersebut.

“Yak! Aku telat?! Aissh… padahal aku ada rapat hari ini!”

* * *

Tak terasa sudah dua minggu lebih Haena tinggal bersama Yoona. Dan semenjak itulah hati Yoona tak karuan. Pasalnya semakin hari dia semakin bingung sendiri. Entah kenapa dia mulai sering memperhatikan Haena. Dia juga begitu nyaman di dekat yeoja itu. Yoona bahkan cemburu saat kadang mereka berpapasan dengan beberapa namja dan mereka menggoda Haena. Meski lebih mengarah mengejek karena ototnya, tapi tetap saja Yoona benci melihat interaksinya!

“Aku bukan seorang lesbian! Tapi kenapa aku ini?” Yoona sekarang tampak uring-uringan di ranjangnya. Haena belum pulang. Dia bilang dia akan sibuk seharian ini di tempat kerjanya. Dan Yoona sekarang anehnya merasa kesepian tanpanya! Padahal biasanya dia nyaman-nyaman saja.

TRING!

Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Yoona tersenyum, mengira itu Haena. Namun tak lama senyumnya pudar saat tahu siapa yang mengirimnya.

From : Mr. Pervert
Sedang apa sayang? Kesepian?

Cih, apa urusanmu?!, batin Yoona kesal. Tapi….

Deg… deg…

Kenapa hatinya senang dan gugup saat mendapat pesan dari namja ini? Biasanya tidak seperti ini!

Yoona mulai tercenung. Kemudian mendecih samar. Pasti karena Donghae sudah lama tak menghubunginya jadinya Yoona merasa aneh karenanya. Ya, pasti karena itu. Jantungnya mungkin bereaksi berlebihan karena terlalu rin.. eh, bukan rindu tapi benci! Ya, itu!

Yoona menghela nafas. Tak ada niat membalas pesan Donghae meski entah kenapa tangannya gatal ingin mengetik pesan dan mengirimnya pada namja itu. Oh, apa lagi ini? Yoona pusing sendiri! Apa dalam dirinya ini sesungguhnya tersimpan jiwa jalang hingga dia berani memikirkan namja yang jelas seharusnya dia benci? Dia tertarik pada Donghae ha? Tidak mungkin!

Mendadak Yoona kembali di dera rasa bosan. Haena lama sekali. Tiba-tiba dia jadi merasa bodoh sendiri. Dia sudah tinggal selama dua minggu bersama Haena dan dia bahkan tak punya nomor ponselnya? Daebak! Dia benar-benar roomate yang buruk.

Dan sekarang Yoona terpekur. Pikirannya mulai menganalisa.

Kenapa dia begitu suka menatap senyum dan tingkah Haena? Kenapa dia begitu cepat akrab dengan Haena? Apa benar dia ini seorang lesbian? Yoona mendadak jadi takut pada dirinya sendiri jika benar dia mengidap masalah tersebut.

Ampun, apakah ini karmanya karena telah mengabaikan namja? Apa seorang anti namja mesti menjadi seorang yang berorientasi seks abnormal alias menyimpang? Yoona jelas tak rela!

Yeoja itu memutuskan bangkit. Mencoba mencari udara segar untuk menghalau pikiran negatifnya tentang dirinya sendiri.

Baru beberapa langkah dari kamar kosannya, Yoona kembali memikirkan Haena. Dan bayangan Donghae pun langsung hadir. Di pikir-pikir mereka cukup… mirip? Yoona gila, frustasi atau apa hingga berpikir seperti itu? Entahlah!

“Kurasa aku harus segera menemui psikiater” gumamnya mengeluh.

Matanya menatap ke depan, mendapati sosok Haena yang baru turun dari sebuah mobil mewah. Cepat-cepat dia sembunyi.

Deg… Deg…

Sial, lagi-lagi jantungnya tak mau kompromi!

Baru kali ini Yoona segugup itu melihat seseorang. Dan ini yeoja? Ya ampun! Dia benar-benar bermasalah!

Perlahan dia mencoba mendekati Haena yang masih saja berdiri dan tampak asik berbicara dengan si pengemudi mobil. Yoona mengernyit semakin dia dekat dengan mereka. Itu kan, mobil Lee Donghae!

Mendadak ada begitu banyak pikiran yang menyerbu Yoona. Ini sepertinya bukan yang pertamakali Haena tampak keluar dari mobil mewah. Apa dia ini kaki tangan Lee Donghae?

Sontak pikiran itu membuat Yoona marah. Apa-apaan ini? Dia percaya dan menaruh hati pada Haena tapi yeoja itu tega mengkhianatinya? Yoona sungguh tak terima!

“Kurasa dia masih tidur. Ini waktu tidurnya” Yoona kembali menghentikan aksinya dan memilih sembunyi untuk mendengarkan percakapan Haena. Tapi yeoja itu langsung mengernyit. Suara Haena berubah?

“Sampai kapan tuan akan begini?” dan sekarang suara laki-laki! Kalau Yoona tak salah itu milik sekretaris Donghae, Youngjae.

“Entahlah” Haena menghela nafas. “Dia masih sangat membenci namja. Aku tak bisa menunjukkan jati diriku padanya saat ini. Aku tak bisa bilang bahwa Lee Haena yang tinggal bersama dengannya selama ini adalah Lee Donghae, namja yang sangat ingin dia hindari” lanjut Haena a.k.a Donghae.

DEG!

Detik itu juga tubuh Yoona membeku dan menegang. Butuh waktu cukup lama bagi Yoona untuk mencerna kalimat namja itu. Hingga akhirnya dia tiba pada satu kesimpulan.

Dia telah dibohongi dan dipermainkan selama ini!

Yoona tak tahan lagi. Dengan amarah yang berkobar, dia langsung keluar dari persembunyiannya. Matanya tampak menghakimi dengan ekspresi menyudutkan.

“No.. nona” ucapan gugup Youngjae membuat Donghae berbalik. Wajahnya sama kaget dan pucatnya dengan Youngjae.

“Yoona….”

Yoona mendecih,  lalu menatap remeh Donghae setelah melepas paksa wig yeoja itu.

“Pembohong…” desisnya pada Donghae yang masih mematung. “Aku membencimu”

TBC

Hmmm… kenapa ceritanya jadi begini ya? -_-

Maaf ya kalau gaje, maaf juga kalau lama. Banyak tugas kuliah yang numpuk masa -_- jadi gak ada waktu liat wp makanya kadang curi-curi waktunya lewat hp..

ok, CLnya jangan lupa ya readers yang cantik dan ganteng… itu aja udah cukup kok buat mengapresiasi ff ini.. 🙂

Gak susah kan jadi readers kesayangan disini? Rajin-rajin aja RCL, yakinlah meski saya gak bales satu-satu bukan berarti saya gak peduli loh. Kalian gak tahu betapa senangnya saya setiap liat komen kalian. Apalagi kalau komennya panjang XD itu bikin semangat saya naik, serius!!!

FF lain? entar ya.. pasti saya lanjut kok 🙂 tapi sekarang saya selesaian dulu part buat ff ini sesuai jadwal.. jadi gak berantakan gitu.. entar saya publish kok buat ff lain, tapi malam ini saya udah ngantuk banget dan capek karena ngerjain tugas kuliah sekaligus ngetik ff.. jadi mohon pengertiannya ya. ff lain gak akan lama kok saya publish setelah ini. Makanya doain aja gak ada halangan 🙂

udah ah, ini omongan makin melanglang buana gak jelas.. pamit aja deh

Sekian dan terimakasih.

125 pemikiran pada “[2/3] Twins?

  1. aigoooo prjuangan donghae buat dpatin yoona bsar bngt ni. donghae jdi hyena aja yah haha dah lngket bngt ma yoona si donghae versi hyena keke. endnya hppy ending yah thor, buat yoona nrima donghae dan hdup brsama hehe

  2. Wkwkwkwk,adaa2 aja sidonghaee,prhatiann bngett donghae ama yoong,smpaii rela nyamar,rela masakin yoona,soo sweet bnget..trnytaa yoonaa pnya trauma masa lalu ama saudara2ny,ksiann juga liat yoonaa,akhirnyaa donghae ketauan pnyamarannya amaa yoonaa,wadooohhhhh gawttt nihh,kayaknya yoonaa uda mulai jtuh cntrong ama donghae dlm wujud haenaaa,smoga yoona donghae jdi nikah

  3. Wah, Hae mnang banyak tuh bisa tinggal brg sama Yoona,, Benr tuh kebalik posisi.a, hrs.a Yoona yg nglayanin
    Donghae,, Yoona alasan.a buat bnci namja kasian bgt, Eomma.a cma mntingin nama baik keluarga mereka aja..
    Ending part.a nyeremin, Apa Donghae bakal bisa jelasin alasan.a k Yoona.. Dan Yoona bisa nerima pnjelasan.a Hae..
    Semoga bisa….

  4. Perjuangan hae buat yoong besar banget sampe rela jd haena wkwkwk..
    Di bagian terakhir hae udh ketauan gmn ya reaksi yoona?? Semogaa mereka tetep baik” aja dan bisa nikah ^^

  5. Duhh,bang ikan keknya cinta pake begete ya sma Yoongie rela”in dandan yg err kefeminiman wkwkw.. Di pertengahan udh kebongkar ke traumaannya Yoona #PoorYoongie:|| dan di scene akhir nah lohh bang lu udh ketauan sm Yoona..-,- bakal ribet ini >.<

  6. Aduuuhh bener2 bikin ngakak deeehh..bisa2nya changmin godain donghae,,wkkkkkkkk…
    Aduuuuuhhh yoona salah paham lagiii..next next

  7. wahhh… donghae akhirnya ketauan juga… akhhh gimana nih lanjutannya? donghae bakalan makin dibenci yoona gak yah?

  8. Tidaaak
    jangan sampai yoona smakin membenci donghae lg, yoona mending terima aja donghae ya? Dia tulus koq…
    Sedih sma cerita yoona…

  9. Ga nyangka trnyata masa lalu yoona separah itu, pantas aja dy anti sm cowo dan curigaan sm donghae

    Dan skrg ditambah lg kedok donghae ketahuan
    Makin ga prcaya dong, yoona sm namja esp donghae
    Penasaran gmn caranya donghae bisa bikin yoona prcaya sm dy

  10. lucu lihat moment yoonhae,yoona mengira dia lesbian ckck,ya ampun donghae ketahuan pasti yoona benar benar marah deh

  11. Waduh.. donghae oppa ketauan boong’y, yoona eonni udah bener” murka tuh kaya’y… cerita’y tambah bikin penasaran aja… yoona eonni, terima donghae oppa’y dooonnnggggg

  12. Ya ampun donghae bener2 berjuang bgt supaya bisa deketin yoona.. tp kasian kenapa yoona benci bgt sama donghae apalagi setelah tahu donghae nyamar jadi haena duh pasti makin benci itu..
    pokoknya ffnya bagus suka bgt sama ceritanya 🙂
    thor ijin baca yg part 3 dong..minta pw nya ya boleh kan? aku udah mention di twitter thor atau harus minta pw kemana?

Be A Good Readers With Your Comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s